BARA MIMPI SANGKANPARAN

Pagi jelang siang, pelataran rumah sederhana itu dipenuhi oleh remaja umuran 16 tahun, laki – perempuan. Agak riuh, mereka mengeluarkan barang-barang ke teras sembari sesekali bercanda dan berkomentar satu sama lain. Ini adalah tipikal hari yang dilalui oleh Insan Indah Pirbadi (37), pendiri Sangkanparan di Cilacap – Jawa Tengah.

Sejak tahun 2008, Sangkanparan mengadakan program ‘Praktek Kerja Industri’ (Prakerin) yang ditujukan bagi siswa SMK, utamanya jurusan Broadcast, dari wilayah Cilacap, Kebumen, Gombong, Banyumas, hingga Banjarnegara. Tak kurang 60 siswa dikelola tiap tahunnya.

“Sebenarnya ini program ‘kecelakaan’. Dimulai dari permintaan sekelompok siswa SMK di Cilacap yang tidak mendapatkan tempat untuk Prakerin, mereka kemudian datang ke kami dan memohon untuk diterima Prakerin di Sangkanparan. Kemudian permintaan terus berdatangan hingga hari ini”, ujar Insan membuka obrolan.

Pelatihan produksi film pendek adalah satu dari sekian banyak aktivitas untuk peserta Prakerin. Para peserta tidak hanya diajarkan hal teknis, tetapi juga pengetahuan pengelolaannya.

Sangkanparan sendiri dibentuknya pada Oktober 2002. Berawal kala Insan masih menjadi mahasiswa di Akademi Seni Desain Indonesia (ASDI), Surakarta, dimana ia dan teman-temannya membuat gerakan desain grafis lokal yang kemudian berkembang ke aktivitas film.

“Ketika pulang ke Cilacap, aku kemudian berjejaring dengan komunitas film di Banyumas Raya. Kami bertemu di acara Pesta Sinema Indonesia yang diselenggarakan oleh komunitas Youth Power di Purwokerto, yang menghubungkan aku ke Mas Bowo (Leksono – pendiri CLC Purbalingga) serta teman-teman lain”.

Di tahun 2004, Insan memberanikan diri untuk mulai membuat film bersama komunitasnya. Sejak saat itu, intensitasnya dalam kegiatan film bertambah. Berbagai kegiatan perfilman ia ikuti, termasuk lomba-lomba. Pengalaman-pengalaman itulah yang saat ini ia bagikan kepada siswa-siswa yang mengikuti Prakerin di Sangkanparan.

. . . . .

Satu periode Prakerin berlangsung selama 3 hingga 6 bulan, dengan jumlah siswa hingga 15 orang. Mereka tidak mengeluarkan biaya untuk mengikuti program ini, namun biasanya mereka akan urunan untuk biaya makan. Rumah Insan yang terdiri dari 4 kamar, didedikasikan sepenuhnya untuk menampung para peserta.

“Aku dan keluarga tinggal di kamar utama, dan 3 kamar lainnya digunakan sebagai tempat tinggal peserta. Bila tidak cukup, mereka akan mencari kos di rumah warga dekat markas kami”, jelas Insan.

Para peserta mengurus kebutuhan hariannya secara kolektif dan mandiri. Menurut Insan, ia dan keluarganya bahkan nunut makan dari apa yang dimasak oleh peserta Prakerin. Segala sesuatunya dikerjakan bersama-sama.

Para peserta Prakerin juga diajarkan untuk mengelola alat-alat produksi serta pemutaran film. Mulai dari bagaimana cara menggulung kabel, hingga menyimpan proyektor video dengan baik.

Kegiatan Prakerin itu sendiri tidak terbatas hanya mengenai film, tetapi banyak jenis kegiatan kreatif seperti teater, sablon cukil, tata panggung pertunjukan, desain grafis, dan masih banyak lagi. Hal ini dilakukan karena variasi siswa jurusan yang mengikuti Prakerin di Sangkanparan bertambah.

Menurut Insan, bertambahnya minat siswa SMK di wilayah Banyumas Raya hingga Pekalongan mengikuti program ini karena informasi dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh para alumni Prakerin sebelumnya. Para siswa ini merasa program yang dibuat oleh Sangkanparan bukan hanya menarik, tetapi juga berguna serta disampaikan dengan cara-cara yang efektif.

Seperti yang diungkapkan oleh Serli Astari (16) dan Hana Sayidah (16) siswa SMKN 1 Karanggayam Kebumen yang tengah mengikuti program Prakerin. Menurut mereka, program Prakerin yang mereka ikuti memberikan banyak ilmu pengetahuan yang mereka tidak dapatkan di sekolah.

Selain pelatihan, Sangkanparan juga rajin memutarkan film ke desa-desa dengan program Bioskop Keliling mereka. Sudah 2 tahun ini Sangkanparan dipercaya oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap untuk mengelola mobil Bioling mereka.

“Babeh mengajarkan kami banyak hal, seperti bagaimana mempersiapkan peralatan untuk pemutaran layar tancep, merawat proyektor. Guru kami juga sangat merekomendasikan Sangkanparan sebagai tempat Prakerin, seperti halnya kakak kelas kami yang memberitahu kami bila sudah banyak karya film yang lahir dari Sangkanparan menerima penghargaan di tingkat nasional. Hal-hal itu memantapkan niat kami untuk mengajukan diri sebagai peserta Prakerin di Sangkanparan”, jelas Hana dengan lugas.

. . . . .

Disisi lain, Insan selalu mengobservasi para peserta dan menganalisa apa yang sekiranya menjadi persoalan-persoalan mereka.

“Jelas, kurikulum mereka di sekolah bermasalah, dalam artian tidak relevan dengan kebutuhan serta percepatan zaman. Para siswa yang ikut Prakerin bisa dipastikan awalnya linglung, karena mereka tidak diajarkan hal-hal yang mendasar dan guru-guru mereka pun tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan”, ungkap Insan.

Insan juga memperhatikan fenomena kualitas daya pikir kritis para peserta yang terus menurun tiap tahunnya. Menurutnya, para siswa gagap dalam menyampaikan ide serta gagasan – ditambah mereka tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup.

Pendampingan siswa dalam proses suting mereka.

“Seperti ada jurang yang lebar antara apa yang diajarkan di kelas dengan realita lapangan. Tambah sedih ketika tiap tahun aku selalu menemukan masalah-masalah yang sama, seperti tidak pernah ada perbaikan dari pihak sekolah. Mereka seperti lepas tangan dan tidak membaca sama sekali catatan yang aku berikan kepada mereka”.

Tiap tahun, Insan selalu membuat catatan evaluasi dan ia berikan kepada pihak sekolah dengan harapan mereka mau untuk mengevaluasi kurikulum. Namun usaha itu tampak seperti angina lalu, karena pihak sekolah tidak pernah melakukan usaha perbaikan untuk kualitas pengajaran mereka.

Variasi kegiatan Prakerin di Sangkanparan. Mulai dari sablon cukil, lukis sepatu, hingga pelatihan tata panggung.

“Ya aku tetap akan memberikan yang terbaik bagi para siswa peserta Prakerin di Sangkanparan. Proses pengajarannya dibawa santai. Aku mengajak teman-teman baik dari Sangkanparan maupun luar, untuk berkontribusi pengetahuan dari berbagai bidang. Sering aku ajak teman-teman teater, musik, seni rupa, dan bidang lain yang ada di Cilacap untuk mengisi kelas Prakerin”.

. . . . .

‘Babeh’ adalah panggilan kesayangan para peserta Prakerin kepada Insan. Tidak aneh, karena Insan memang berperan sebagai bapak asuh mereka selama tinggal di Sangkanparan. Bersama Dewi, istrinya dan kedua anak mereka, Prana Ramadania (11) dan Damar Panandita (5) – Insan tampak belum mau menyerah dalam proses ini. Dewi yang juga penggiat teater, paham apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya tersayang. Prana, anak sulung mereka, tampak jelas mengikuti jejak kedua orangtuanya. Beberapa kali ia memenangkan lomba film pendek kategori anak.

Kedua buah hatinya inilah yang menjadi salah satu alasan kuat Insan untuk terus mengelola program Prakerin. Ia menyadari, suatu hari anak-anaknya akan menghadapi problem yang sama dan akan ada orang lain yang membantu mereka untuk mengatasinya.

Proses ini bukannya tanpa hasil. Sejak 2008 hingga hari ini, sudah ada 12 anak yang pernah mengikuti program Prakerin di Sangkanparan mendapatkan beasiswa prestasi dari sekolahnya masing-masing, hasil dari buah karya mereka.

Salah satu anak didik Sangkanparan yang memenangkan festival untuk kategori pelajar.

Seperti Muslihan, yang saat ini sedang menjalani studi S1 di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, mengambil mayor dokumenter. Muslihan adalah mantan siswa SMKN 1 Kebumen, mendapatkan Beasiswa Unggulan dari film dokumenternya “Jenitri” yang juga memenangkan beberapa penghargaan.

Buat Muslihan, Prakerin di Sangkanparan adalah titik awal yang membawanya ke jenjang yang ia jalani saat ini. Ia merasa baru benar-benar belajar ketika mengikuti proses di Sangkanparan.

“Di Sangkanparan, aku baru bisa belajar mengoperasikan kamera secara benar, walaupun waktu di sekolah ambil jurusannya multimedia, tetapi selama di kelas hanya belajar teori-teori saja tanpa praktek yang berarti. Ditambah dapat kesempatan banyak menonton film-film yang mengangkat kearifan lokal – menginspirasi saya untuk membuat film yang sama”, ungkapnya.

. . . . .

Insan bersama teman-teman Sangkanparannya terus menjaga bara mimpi mereka, sebisa mungkin suatu hari akan menjadi api. Salah satu mimpinya adalah membangun rumah pendidikan Sangkanparan di sebidang tanah kosong milik Insan. Bila terwujud, Insan berharap Sangkanparan akan lebih berdaya dalam mendidik para siswa SMK yang membutuhkan pengetahuan-pengetahuan praktek yang berkualitas.

Sangkanparan juga mengisi pelatihan di sekolah-sekolah, tidak hanya di wilayah Cilacap, bahkan sampai ke Kebumen dan Purworejo.

“Usaha mewujudkan mimpi membangun rumah pendidikan itu dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya ikut presentasi di acara Akatara kemarin. Aku tidak pasang target apapun, tetapi belajar untuk berjejaring lebih luas, siapa tahu akan memberikan hal berguna untuk Sangkanparan”.

“Saat ini, kami tetap fokus pada apa yang kami bisa lakukan, walau pun kecil-kecil. Menambah alat praktek Prakerin yang saat ini belum seberapa, atau membeli pompa air hasil dari uang tabungan Sangkanparan ditambah sumbangan dari teman-teman”, ujarnya sambal terkekeh dan menutup obrolan kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *