Mbah Kadal: Sang Seniman Kerakyatan dan Resep Awet Mudanya

Posted on

Mbah Kadal, demikian orang-rorang di Desa Surowono, Klaten, Jawa Tengah, memanggilnya. Nama asli perempuan berumur 65 tahun ini adalah Sisri Citro Laksono. Sehari-hari Mbah Kadal mengelola warung makan sederhana di pasar desa bersama suami, dan mereka mengolah bahan masakan dari ladang sendiri.

Diluar kesehariannya berjualan, Mbah Kadal adalah persona spesial yang menjadi ikon desa; seniman karawitan dan tari. Nama Mbah Kadal itu sendiri merupakan pemberian warga desa – berasal dari ejekan masa kecil karena cadel, nama Mbah Kadal melekat lantaran riasan wajah lucu yang dikenakan pada setiap penampilannya.

Seniman sederhana ini akrab dengan seni karawitan sejak bangku Sekolah Rakyat pada akhir dekade 1960an. Saat itu, ayah Mbah Kadal yang juga seorang seniman karawitan, sering mengundang kelompoknya untuk berlatih di rumah. Mbah Citro, suami Mbah Kadal, adalah salah satu penabuh di kelompok tersebut. Cinta pertama yang bersemi dari kegiatan antar-jemput kedua sejoli.

Meski sudah sepuh, Mbah Kadal masih enerjik, selalu riang, serta humoris. Saat ditanya rahasia awet muda ala Mbah Kadal, beliau menjawab tiga hal; mlarat, rekoso, dan nrimo. Hal itu ia sampaikan sembari terbahak-bahak.

Kesungguhan dan kecintaan Mbah Kadal akan profesinya, terasa di tiap penampilan. Mulai saat berdandan, tampil, hingga ketika duduk ngaso di pinggir panggung, aura kesenimanannya mencuat beriring tembang yang beliau lantunkan, diiringi guyon yang beliau selipkan setiap saat.

Mbah Kadal adalah maestro yang mampu mempersempit jarak antara dirinya sebagai penampil dengan penonton. Keluwesan serta kesungguhannya memberikan hiburan, selalu mendapatkan respon hangat dan kesahajaannya menjadikan beliau sosok yang selalu disapa hangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *