Belitung dalam Segelas Kopi Susu

Posted on

Teks & Foto : Andrea Lidwina

Saya berkunjung ke Belitung untuk reuni keluarga besar. Kunjungan itu bukan perkenalan pertama saya dengan pulau penghasil timah ini. Saya mengenalnya sejak membaca novel-novel karya Andrea Hirata, yaitu tetralogi Laskar Pelangi (2005-2008) dan dwilogi Padang Bulan (2011).

Dalam novel-novel itu, sang penulis selalu membumbui ceritanya dengan kebiasaan dan kebudayaan masyarakat Melayu yang telah mengakar dan menjadi ciri khas Belitung, termasuk soal warung kopi. Misalnya, tokoh Ikal yang mengamati para pelanggan warung kopi milik pamannya, Usah Kau Kenang Lagi, yang lebih senang minum kopi di warung itu ketimbang di rumah masing-masing.

Sudah sampai di sana, saya tentu tak ingin melewatkan kesempatan untuk merasakan Belitung di warung-warung kopinya.

Warung Kopi Kong Djie sudah membuka 18 cabang di Belitung dan beberapa cabang di kota-kota lain.

Saya mampir ke warung kopi Kong Djie di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung. Warung yang sudah menyeduh kopi sejak 1943 ini tampil dalam kesederhanaan. Tempat yang tidak terlalu luas, meja dan kursi tanpa sandaran yang terbuat dari kayu, menggunakan pendingin ruangan alami, dan gelas-gelas kaca rumahan untuk menyajikan kopi. Walaupun sederhana, warung kopi ini selalu terisi penuh oleh para pelanggannya. Saya dan Bapak pun ‘menumpang’ di meja yang telah bertuankan dua orang bapak-bapak. “Silakan, silakan,” kata mereka menyambut kedatangan kami.

Tak begitu lama, pesanan saya tiba di atas meja: segelas kopi susu. Dalam satu gelas ini, terlihat susu kental manis di bagian bawah dan kopi di bagian atas yang belum diaduk, mungkin ingin membebaskan pelanggan menentukan sendiri volume susu yang pas untuk menemani pahitnya kopi. Karena saya bukan peminum kopi kelas berat, semua elemen yang ada di dalam gelas ini saya aduk rata menjadi sebuah kesatuan. Namun, meskipun telah menjadi satu, rasa kopinya tetap jauh lebih dominan, berbeda dengan kopi susu milik Kopi Es Tak Kie di Glodok, Jakarta Barat yang lebih membaurkan rasa kopi dengan susunya. Rasa kopi yang mendominasi itu berasal dari biji-biji kopi yang ditanam di Lampung (Belitung tidak punya kebun kopi) dan sudah melalui dua kali proses penyaringan. “Biar gak ada ampasnya, Dek,” ucap Ibu Pembuat Kopi sembari menuang kopi dari satu teko ke teko lainnya.

Ibu Pembuat Kopi sedang menuang kopi yang telah disaring ke teko-teko tinggi khas Warung Kopi Kong Djie.

Segelas kopi susu di warung kopi ini dihargai Rp10.000.

Sayangnya, jadwal acara reuni yang padat membuat saya harus buru-buru menghabiskan segelas kopi susu itu, meskipun bukan begitu seharusnya menikmati kopi di Belitung. Satu teguk kopi tampaknya selalu diikuti dengan obrolan panjang antarpelanggan, seperti dua orang bapak-bapak yang mejanya saya ‘tumpangi’ ini. Sedari tadi, mereka membicarakan soal Ketua DPR RI yang ditangkap atas tuduhan kasus korupsi, dilanjutkan dengan kondisi politik di Belitung menghadapi Pilkada tahun depan.

Bapak-bapak yang sibuk membicarakan masalah politik di Belitung dan tingkat nasional.

Salah satu pelanggan yang tengah menikmati segelas kopinya.

“Budaya ngopi di Belitung memang kuat sekali,” kata Mas Theo yang memandu tur dalam reuni kali ini. Menurutnya, warung kopi berfungsi sebagai tempat keluar-masuknya informasi dan sosialisasi bagi masyarakat Belitung. Tak heran jika siapa saja bisa duduk berjam-jam di warung kopi dan membicarakan apa saja, mulai dari gosip tetangga hingga masalah politik. Saya jadi teringat tokoh Maryamah dalam salah satu novel Andrea Hirata, Cinta di Dalam Gelas, yang ingin mengalahkan mantan suaminya Matarom dalam turnamen catur. Ia langsung menjadi topik perbincangan di warung-warung kopi karena perempuan menantang laki-laki masih dianggap tabu.

Berbeda dengan Belitung, warung-warung kopi di Jakarta, yang umumnya modern dan disebut coffee shop, justru menjadi pilihan orang-orang ketika ingin ‘menyendiri,’ alias tidak ingin diganggu orang lain karena sedang me time atau harus berkonsentrasi menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Keinginan itu bisa dipenuhi oleh kebanyakan coffee shop melalui koneksi internet gratis, tempat duduk nyaman, dan ruangan dingin. Oleh karena itu, biasanya setelah memesan kopi, setiap orang hanya akan fokus memerhatikan gawai di hadapan mereka, tanpa memedulikan pelanggan lain di sekelilingnya. Saya pun terkadang menjadi bagian dari orang-orang itu, bahkan ditambah memasang earphone dan mendengarkan lagu. Sementara itu, fungsi sosialisasi yang dipegang warung kopi Belitung telah menjelma menjadi media sosial bagi masyarakat Ibu Kota. Sebab, interaksi lebih banyak ditemukan di ponsel pintar dalam bentuk follow, like, dan comment daripada percakapan antarmanusia.

Kopi dan obrolan hangat masih akan menghidupi warung-warung kopi di Belitung dalam jangka waktu lama. Pemerintah setempat yang belum mengizinkan pendirian mal berarti belum pula membuka pintu masuk bagi coffee shop yang telah menjamur di Jakarta untuk membuka cabang di pulau ini. Dengan demikian, Belitung masih dapat dirasakan dalam segelas kopi susu, atau mungkin lebih.

Kalau ada kesempatan lagi, saya ingin kembali ke Belitung, tepatnya ke Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Saat saya melintas di jalan utamanya dalam perjalanan menuju Gantung, warung-warung kopi yang lebih sederhana berjejer di sepanjang jalan. Wilayah yang dijuluki Kota 1001 Warung Kopi ini pasti kaya dengan obrolan-obrolan menarik.

(Artikel ini telah tayang sebelumnya di blog Andrea Lidwina: www.andrealidwina.wordpress.com).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *