Digugu Bambu

Saya tumbuh besar di kampung Betawi, sejak tahun 1984. Nama kampung saya Gintung, kelurahan Tanjung Barat. Dari jalan Lenteng Agung Raya masuk ke Jalan Seratus atau jalan T.B. Simatupang lewat Rancho, hingga mentok, sementok-mentoknya.

Kampung Gintung dilewati sungai Ciliwung, dan bantaran sungai dipenuhi pohon bambu. Jadi sejak kecil saya akrab dengan budaya bambu. Bagi kami anak-anak kampung Gintung, bambu adalah sumber kesenangan.

Di bulan Ramadhan, tentu saja meriam bambu jadi menu wajib. Meriam bambu kami namakan bleguran. Batang bambu besar, dan jenis favoritnya adalah bambu hitam karena tidak mudah pecah, dibuat menjadi selongsong besar.

Bleguran atau Bledukan, meriam bambu dengan suara menggelegar. Permainan yang umum muncul di bulan Ramadhan.

Biasanya bambu tiga ruas. Ruas pertama dan kedua dilubangi, dan ruas ketiga menjadi bokong meriam. Di bokong bambu, diberi lubang tembak. Bahan “mesiu”-nya adalah minyak tanah, tetapi kadang kami pakai karbit dan air. Suaranya lebih kencang, tetapi cepat merusak meriam.

Di musim kemarau, pilihan permainan dengan bambu bertambah banyak. Pletokan salah satunya, “senjata perang” anak kampung. Seruas bambu besaran telunjuk orang dewasa, dipotong ruas ke ruas. Kemudian dibuat ‘sodokan’ bambu yang berfungsi sebagai pelatuk senjata.

Peluru favoritnya ‘pentil’ jambu air, nyolong di kebon Pak Haji Salik. Kalau tidak ada, diganti kertas koran yang direndam air atau dikemut-kemut di mulut.

Pletokan.

Bagi penembak ulung, pletokan bisa bikin burung pipit atau kadal terkapar pingsan. Sampai dengan ujung 1980, Gintung masih ramai dengan hewan liar. Berbagai jenis burung, kadal, ular, hingga monyet. Di kali pun konon ada buaya putih (premium) dan tidak putih (reguler).

Mainan selanjutnya adalah mobil etek. Macam mobilan Tamiya a la anak kampung. Membuat mobil etek membutuhkan craftsmanship tersendiri, tidak sembarang anak bisa membuat karena dibutuhkan kemampuan teknik arsitek dan sipil yang mumpuni.

Bambu dibuat menjadi bilah-bilah. Panjangnya terserah, tergantung seberapa besar mobil mau dibuat. Bilah-bilah disusun sedemikian rupa dan diikat dengan karet gelang. Ruas roda memakai selongsong pulpen dan ban dari sendal jepit. Saya pernah kena tinju kakak karena sendal jepit barunya saya jadikan ban mobil etek.

Mobil etek.

Batang pohon salak adalah pilihan utama untuk menjadi alat pendorong sekaligus pengendali mobil – karena kelenturannya. Kami percaya, bila mobil etek memakai batang pohon salak, maka mobil bisa melesat bak Dash! Yonkuro!

Sejatinya, masa kanak-kanak saya di Gintung pada era 80an sungguh luar biasa. Jenis mainan dan permainan yang kami miliki seperti tidak ada habisnya. Ibu saya sering dibuat sakit kepala karenanya. Pulang ke rumah ketika senja hampir berganti malam, dengan pakaian sudah penuh kotoran. Tidak ada sehari pun saya lewati tanpa bermain di lapangan, kebun, dan rawa.

Konvoi mobil etek, sembari berburu kadal atau burung pipit yang ditembak pakai pletokan. Berjalan hingga kampung sebelah yang memunculkan konfrontasi karena ‘pelanggaran wilayah’. Konflik tak bisa dihindari, perang pletokan pun terjadi. Perang baru terhenti bila salah satu dari kami ada yang menangis, atau kala senja memisahkan kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *