Lagu Rindu, Pasar Minggu

Pepaya, Mangga, Pisang, Jambu / Dibawa, dari Pasar Minggu / Di sana, banyak penjualnya / Di kota, banyak pembelinya

Sepenggal lirik dari lagu berjudul “Papaya Cha-Cha-Cha” ciptaan Adikarso ditahun 1955, memberikan cukilan mengenai area di Jakarta yang dikenal sebagai sentra dagang buah-buahan; Pasar Minggu. Sebelum tahun 1920, lokasi Pasar Minggu berada di Kampung Lio, pinggir Kali Ciliwung, kemudian dipindahkan ke lokasi yang kita lihat hari ini.

Stasiun Pasar Minggu tempo dulu. Posisinya sama dengan stasiun kereta yang kita lihat hari ini.

Sejak awal, kegiatan dagang di Pasar Minggu memang hanya terjadi di hari Minggu dan jenis dagangan utamanya adalah buah-buahan. Lambat laun, jenis dagangan bertambah dengan beras. Para pengusaha Tiongkok mulai membuka toko beras dan kebutuhan sehari-hari, walau belum permanen.

Penampakan Pasar Minggu tempo dulu.

Pada 1930, pemerintah Belanda membangun pasar dengan lantai ubin bertiang besi dan beratap seng. Lokasinya di terminal bus dan tempat PD. Pasar Jaya. Sejak saat itu, Pasar Minggu menjadi sentra dagang yang bukan hanya menjual buah-buahan, tetapi menyediakan semua kebutuhan pangan serta sandang. Hingga tahun 70an, Pasar Minggu konon menjelma menjadi sentra perdagangan buah terbesar di Asia Tenggara.

Sejak awal, Pasar Minggu memang sudah menjadi pusat dagang buah-buahan.

Zaman Yang Melaju

Sampai dengan penghujung tahun 80an, Pasar Minggu masih memiliki identitas sebagai pasar buah utama di Jakarta, sekaligus pasar penyangga dari Pasar Rebo sebagai induk. Kios-kios buah bertebaran dan didominasi buah lokal dari perkebunan di kampung-kampung sekitar.

Semisal Condet yang melegenda sebagai penghasil salak, rambutan, serta nangka. Kemudian Tanjung Barat yang dikenal sebagai penghasil jambu air, jambu batu, kecapi, serta nangka cempedak. Disokong pula oleh area Jagakarsa, Jatipadang, dan sekitarnya.

Adalah pemandangan umum tiap dini hari, serombongan orang memikul keranjang bambu berisikan buah hasil panen kebun mereka. Berjalan beriringan dengan gerobak-gerobak sayur serta penjual susu sapi segar.

Penanda bioskop Lingga Indah Theatre yang masih tersisa. Pada masa keemasannya, bioskop ini memutarkan film-film laga Hong Kong, film Hollywood kelas B, dan film-film Indonesia.

Seiring waktu, bangunan pasar diremajakan. PD Pasar Jaya merevitalisasi wilayah pasar dan muncul landmark-landmark baru, salah satunya adalah bioskop. Di lantai paling atas gedung PD. Pasar Jaya, ada Lingga Indah Theatre. Di seberangnya ada bioskop Nirwana Theatre dan Bima Theatre. Kehadiran ketiga bioskop ini mengubah wajah Pasar Minggu menjadi lebih urban.

Gang menuju bioskop Nirwana. Dulunya gang ini menjadi pusat penjualan kaset bajakan, poster film dan musik, stensilan porno, hingga kaos “BM”.

Variasi bisnis bertambah dengan toko-toko kaset bajakan, poster, hingga pusat hiburan seperti tempat biliar hingga kafe-bar mini yang kesemuanya ditujukan untuk kelas menengah bawah. Kemeriahan area Pasar Minggu bertambah gempita dengan dibangunnya pusat perbelanjaan Ramayana serta Robinson. Lengkap sudah komponen-komponen yang dibutuhkan Pasar Minggu untuk menjadi ‘pusat baru’ di selatan Jakarta.

Pada awal 90an, pamor Pasar Minggu sebagai sentra dagang buah-buahan turun menjadi sekedar pasar umum. Keran impor yang dibuka oleh pemerintah berdampak pula pada serangan buah-buahan impor yang perlahan namun pasti menggeser buah-buahan Nusantara. Ditambah pula perluasan pembangunan tempat tinggal serta perkantoran yang membabat habis kebun-kebun buah di seputaran Pasar Minggu.

Bangunan Ramayana ini sempat dilalap api sewaktu kerusuhan Mei 1998. Konon beberapa pegawainya mati terbakar dan memunculkan legenda urban hantu Ramayana.

Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta seperti menutup babak kejayaan dan membuka lembaran baru Pasar Minggu. Pusat perbelanjaan Ramayana kena bakar walau tak melalap habis gedungnya. Kegiatan pasar sempat terhenti sejenak dan disaat bersamaan, bioskop-bioskop di Pasar Minggu kompak menutup layar. Sebagai salah satu denyut nadi, ketiga bioskop di Pasar Minggu memberikan nafas kehidupan ekosistem yang mengelilinginya. Otomatis lapak-lapak dagang sekitarnya turut tutup buku atau pindah ke lokasi lain.

Penampakan Pasar Minggu di siang hari – kontras dengan tampilan di malam harinya.
Di siang hari, Pasar Minggu menjadi tempat penyedia kebutuhan sandang dan semacamnya, walau pedagang sayur, buah, bumbu, dan kebutuhan dapur lainnya tetap beroperasi.

Walaupun demikian, pondasi sejarah Pasar Minggu masih terlalu kuat untuk dikikis zaman. Tetap beroperasi sebagai lokasi dagang sayur-mayur, daging, ikan, serta kebutuhan dapur lainnya, Pasar Minggu masih menyisakan kharisma.

Di malam hari, Pasar Minggu menjadi sentra dagang untuk berbagai jenis kebutuhan sayur, daging, ikan, dan seterusnya. Para pedagang mulai menyiapkan lapaknya jelang tengah malam.

Tengah malam, perempatan Pasar Minggu mulai dipadati mobil-mobil bak yang membawa berbagai macam barang dagangan. Ditumpangi para pedagangnya yang terkantuk-kantuk, tertidur bersandar di tumpukan kangkung. Tukang ojek bersaing dengan mobil kalong, berharap tumpangan orang kantoran yang pulang larut, sebelum nanti jelang dini hari – mereka digantikan oleh para pedagang warungan pulang belanja.

Pedagang bumbu racikan.

Di salah satu pojok dekat perempatan, terparkir gerobak yang menyediakan suguhan uli panggang, mie instan, kopi susu, teh, serta jamu. Mampirlah, pesan uli panggang serta teh panas manis atau kopi – terserah selera Anda.

Duduk santai sambil menyeruput teh hangat manis, ditemani uli panggar dengan racikan kelapa serundeng gula, adalah kenikmatan sederhana yang hakiki.

Perlahan seruput, kemudian kunyah uli panggang yang gurih manis itu sembari menonton sayur-mayur diturunkan dari mobil bak. Celotehan kuli angkut, berpadu dengan umpatan pedagang, diselingi guyon a la orang pasar.

Syahdu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *