Menelisik Nilai Seni Budaya

Mari bayangkan Indonesia tanpa pertunjukan wayang kulit, ritual bakar tongkang, konser musik punk, sesaji laut, pameran seni rupa kontemporer, museum, sanggar tari, kelompok teater kampus, dan masih banyak lagi kegiatan dalam bentuk pertunjukan maupun wacana terkait seni budaya.

Mari bayangkan kita vakum dari semua hal itu; hidup tanpa sumber daya kolektif dari perpustakaan, museum, teater dan galeri, atau tanpa ekspresi sastra, musik dan seni, akan statis dan steril.

Yang akan terjadi adalah hilangnya argumen kreatif tentang masa lalu, tidak ada perdebatan tentang masa kini yang beragam dan merangsang, serta hilangnya mimpi tentang masa depan.

Perdebatan mengenai nilai dan fungsi seni budaya berlangsung sejak lama. Asumsi tentang nilai umum seni budaya sudah ada dalam masyarakat, dan perdebatan secara spesifik mengenai daya guna terus bergulir. Mulai dari perkara identitas bangsa, tonggak peradaban, hingga fungsi pragmatis sebagai pendorong sektor pariwisata – adalah isu-isu yang biasa dibicarakan dalam forum diskusi formal maupun informal.

Presiden Jokowi dalam sambutannya pada acara Forum Rektor Indonesia di JCC Senayan, tahun 2017, menyatakan bahwa ia terpikir untuk menjadikan seni budaya sebagai business core yang nanti dikaitkan dengan ekonomi pariwisata.

Festival Budaya Lembah Baliem – Suryo Sumarahadi.

Pernyataan ini sangat relevan, mengingat keragaman yang Indonesia miliki amatlah luar biasa, tanpa ada tendensi untuk melebih-lebihkannya. Sejak Spektakel meluncurkan website direktori kegiatan seni budayanya, kami terpukau dengan jumlah kegiatan seni budaya yang berlangsung sepanjang tahun di Indonesia. Dari ritual, seni tradisi, kontemporer, serta pertautan diantara kesemuanya.

Bahkan kita tidak hanya bisa mengaitkan seni budaya pada ekonomi pariwisata. Seni budaya bisa berperan di banyak lini bisnis lainnya; kesejahteraan sosial, pendidikan, produk budaya populer, bahkan kesehatan sekalipun.

Namun bagaimana cara menerjemah ide tersebut hingga pada tingkatan aplikatif?

Ketika kita berbicara tentang nilai seni dan budaya, kita harus mulai secara intrinsik – bagaimana seni dan budaya menerangi kehidupan batin serta memperkaya dunia emosional. Kita harus mampu menunjukan manfaat seni budaya pada kesejahteraan sosial, kesehatan fisik dan mental, sistem pendidikan, status nasional dan ekonomi.

Kolaborasi band Jazz Prancis, Ozma, dengan grup calung Banyumas – Spektakel.

Pembuktian manfaat seni budaya dilakukan pada skala yang berbeda; pada tingkat individu, komunal dan nasional – sehingga kita dapat memunculkan kesadaran di masyarakat, lintas sektor budaya, pendidikan, serta politik, yang memengaruhi investasi di sektor publik dan swasta.

Untuk itu, kita membutuhkan data informasi ini untuk membantu berpikir tentang seni dan budaya sebagai sumber daya nasional yang strategis. Sumber informasi ini yang akan membantu kita berpikir bagaimana dapat melakukan yang lebih baik, sehingga seni budaya dapat benar-benar dinikmati oleh semua orang – dari berbagai lapisan.

Artikulasi Baru Seni Budaya

Kita perlu melihat secara kritis kondisi ekosistem seni budaya di Indonesia. Persoalan utama seni budaya di Indonesia adalah jarak. Celah antara kegiatan serta pelaku seni budaya dengan masyarakat sangat lebar. Hal ini disebabkan oleh 3 persoalan dominan;

  • Infrastruktur: minimnya infrastruktur produksi dan ekshibisi seni serta mahalnya infrastrktur pendukung seperti transportasi.
  • Informasi: tidak terkelola dan distribusi yang tidak maksimal.
  • Literatur: materi pendidikan yang konvensional dan tidak memanfaatkan perkembangan teknologi.

Akibatnya masyarakat kurang kesempatan untuk mengalami seni budaya dalam keseharian mereka. Seni budaya seolah menjadi barang mewah yang hanya bisa disentuh dan alami oleh segelintir orang dari kelas sosial tertentu.

Gedung-gedung kesenian yang ada di kota kabupaten belum menjadi pusat produksi dan ekshibisi kesenian, dan banyak terbengkalai. Revitalisasi fisik, fungsi serta pola pengelolaan harus dilakukan.

Kita juga harus mengubah cara mengartikulasikan seni budaya. Seni budaya bukan benda statis yang tidak bisa direproduksi dalam bentuk-bentuk baru. Begitu juga dengan distribusi informasi serta materi pendidikan. Materi pengajaran yang konvensional diubah dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Kita kekurangan data-data ekosistem seni budaya yang komprehensif. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini seperti mencari setitik cahaya ditebalnya kabut;

  • Berapa jumlah individu yang bekerja secara profesional di bidang seni budaya?
  • Apakah ada standar kompetensi profesinya?
  • Berapa estimasi valuasi ekonomi dari kegiatan seni budaya dalam rentang beberapa tahun terakhir?
  • Bagaimana relasinya dengan struktur bisnis yang lain, seperti penyewaan alat, jasa keamanan, katering, lembaga pendidikan, hingga penonton?

Data di sektor seni budaya biasanya dipersepsikan sebatas penjualan tiket, jumlah penonton/pengunjung serta dokumentasi kegiatan. Kita perlu berpikir tentang data secara berbeda, dengan dampak positifnya.

Penenun Timor – Suryo Sumarahadi.

Data seni budaya menghadirkan peluang untuk membuat narasi berbasis bukti yang dapat menyoroti skala dan dampak organisasi seni, menjadikannya sumber daya strategis yang berguna. Menggabungkan data dari berbagai sumber dapat membantu memecahkan masalah dengan cara baru.

Data juga dapat digunakan dalam konteks yang lebih akrab, seperti metrik media sosial. Data ini dapat menawarkan wawasan unik dalam proses menciptakan cara dan bentuk baru lembaga budaya mengembangkan model partisipasi publik secara daring.

Industri Budaya dan Kreatif

Industri kreatif dan budaya bertindak sebagai sumber input kreatif yang menambah nilai atau mendukung industri lain. Ada banyak argumen yang dibuat tentang industri kreatif sebagai bentuk keterkaitan antara sektor seni dan budaya komersial dan bagaimana hal tersebut memberikan kontribusi kepada ekonomi nasional serta lokal. Namun di Indonesia, bukti-bukti di bidang ini masih terbatas pada beberapa studi skala kecil.

Kita perlu menyelidiki, apa sekiranya kebutuhan fundamental masyarakat akan seni budaya. Masyarakat sebagai end user merupakan pemangku kepentingan yang harus direspon. Bagaimana dinamika serta pemikiran khalayak umum tentang seni budaya, bisa menstimulasi inovasi-inovasi produk seni budaya yang kelak menjadi identitas nasional.

Melibatkan masyarakat dalam proses ini sangatlah krusial. Peran individu serta kelompok sipil – baik sebagai pelaku seni budaya maupun bukan, akan memberikan stimulan bagi seluruh entitas untuk bergerak dan terhubung satu sama lain dalam mengembangkan seni budaya sebagai bagian dari industri budaya dan kreatif.

Untuk menggapainya, disyaratkan untuk menggunakan paradigma yang sangat berbeda dari sebelumnya dalam melihat dan menilai seni budaya. Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada cara pandang charity, bahwa seni budaya hanya bisa berjalan dengan modus donasi, atau bantuan pemerintah. Seni budaya bukan hanya apa yang kita lihat di masa lalu, tetapi apa yang kita lakukan hari ini, dan apa yang kita siapkan untuk masa depan.

Disarikan dari sumber:
The Value of Arts & Culture to People and Society – www.artscouncil.org.uk
The Art of Analytics: Using bigger data to create value in the arts and cultural sector – http://lab.cccb.org
The arts and culture sector must think about data … but differently – www.theguardian.com
UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *