Per-empu-an dalam Ontologi Dedes

Kolektif kreatif perempuan asal Bandung, Fat Velvet, menyuguhkan Ontologi Dedes. Ken Dedes bukan sekadar objek penceritaan; ia adalah pelaku.

Di atas panggung bertemaran cahaya keunguan, sosok Ken Dedes direpresentasi ulang oleh kelompok Fat Velvet, Sabtu, 2 Maret lalu di Galeri Indonesia Kaya sebagai pembuka dari rangkaian pertunjukan Panggung Ruang Kreatif. Ken Dedes dimainkan oleh dua orang aktris yang berperan sebagai Ken Dedes putih dan Ken Dedes hitam. Namun, putih dan hitam tidak dilekatkan pada stereotipe baik dan jahat, melainkan pada pertimbangan-kebimbangan atas setiap keputusan yang hendak diambil sang tokoh perempuan.

Bayangkan bila kita adalah Ken Dedes dan berada dalam posisinya adalah ajakan yang ditawarkan Ontologi Dedes. Fat Velvet menempatkan sosok Dedes sebagai pelaku dan bukan sekadar objek penceritaan. Pemosisian Ken Dedes dalam sudut pandang ini menandaskan lagu lama bahwa ia adalah sekadar perempuan yang memainkan perannya dengan apik sebagai istri Tunggul Ametung atau citra penggoda yang kemudian dilekatkan pada dirinya ketika ia dinikahi oleh pembunuh suaminya sendiri, Ken Arok.

Ontologi Dedes tidak mendefinisi ulang, melainkan mengingatkan definisi asali perempuan. Dari bahasa Sanskerta mpu, di kemudian hari kata ini dipadukan dengan simulfiks {per-/-an} yang menyatakan pelaku pekerjaan, sehingga perempuan mempunyai arti, ‘yang melakukan pekerjaan mpu’. Ketika mpu memiliki arti ‘tokoh yang istimewa, tokoh religius’, maka perempuan adalah tokoh yang melakukan pekerjaan-pekerjaan istimewa, pekerjaan-pekerjaan religius.

Fat Velvet adalah kolektif kreatif perempuan asal Bandung yang dibentuk pada akhir 2016. Bergelut di ranah kreatif, Fat Velvet mempertanyakan posisi perempuan dalam industri kreatif dan masyarakat secara keseluruhan. Melalui metode counter-culture, mengamati, menilai, dan mempertanyakan fenomena sosial dalam lingkup sosial, Fat Velvet kemudian mendekonstruksi dan membangun ide-ide baru melalui kegiatan dan karya kreatif, salah satunya Ontologi Dedes.

“Fat Velvet mengangkat isu dan permasalahan yang masih sering dihadapi oleh perempuan dan mengolahnya dalam karya pementasan dengan pesan positif di dalamnya. Dalam pementasan ini, kita akan melihat dualitas kepribadian Ken Dedes yang ditampilkan secara baik oleh kelompok seni Fat Velvet. Kami harap, kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia dapat terus berinovasi dan menghasilkan karya-karya yang dapat menginspirasi penikmat seni,” ujar Rama Soeprapto selaku mentor dari Fat Velvet.

Fat Velvet adalah satu dari 14 kelompok yang lolos seleksi dalam program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia yang diadakan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation dan Garin Workshop. Dalam proses persiapan pertunjukan, ke-14 kelompok terpilih didampingi oleh para mentor yang ahli dalam bidangnya seperti, Garin Nugroho, Eko Supriyanto, Ratna Riantiarno, Rama Soeprapto, Djaduk Feriyanto, Tinton Prianggoro, Iswadi Pratama, Ruth Marini, Subarkah Hadisarjana, Hartati, dan Butet Kartaredjasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *