Kongsi Maslahat Ketoprak Toro

Tangannya lincah, menaruh cabai, bawang putih, kemudian bumbu kacang yang kemudian dicampur ketupat, bihun, dan tahu. Ditutup dengan taburan kerupuk, maka ketoprak siap diberikan ke pelanggan.

Sutoro, atau Toro, akrab dipanggil ‘Ciblek’ di kampung saya tinggal, Gintung Dalam, Tanjung Barat – Jakarta Selatan. Ciblek adalah istilah slang untuk gadis muda usia sekolah yang suka nongkrong hingga larut malam, akronim dari Cili’an Betah Melek (anak kecil suka begadang). Dulu, gerobak ketoprak Toro ditulis Ciblek dengan huruf besar-besar, itulah muasal panggilan kesayangan warga Gintung ke Toro.

Pria kelahiran 1976 ini asli Tegal, hijrah ke Jakarta tahun 1989. Di usia mudanya, Toro bekerja sebagai pembungkus kerupuk di industri rumahan, Bekasi. Setelahnya, berbagai macam jenis kerja dia lakoni. Pedagang asongan, buruh toko besi, dan rupa-rupa lainnya, sebelum menetapkan karir sebagai pedagang ketoprak profesional tahun 1994 hingga hari ini.

Di Jakarta, Toro tidak sendiri. Ia bersama 11 orang yang masih sanak-familinya, kesemuanya berjualan ketoprak – tinggal bersama di rumah kontrak petakan. Semacam kongsi keluarga dan kerabat dekat yang ingin mengadu untung di Jakarta.

Ya tiap tahun ana 5-6 orang anyar sing arep belajar dagang makanan nang Jakarta, kang. Biasane esih famili. Misale adek ipare nyong melu nunut, diajari bikin ketoprak, nek wis pinter dikon dagang dewek” (Ya, tiap tahun ada 5-6 orang baru yang mau belajar jualan makanan di Jakarta. Biasanya masih famili. Contohnya adik ipar saya, ikut belajar, dilatih bikin ketoprak, setelah pintar disuruh jualan sendiri), ujar Toro dengan dialek khas Tegalnya.

Sudah menjadi budaya, kongsi famili tiap pedagang di Jakarta adalah keharusan. Rasa kekeluargaan dan primordial adalah modal utama, diatas kapital rupiah. Ketoprak, bubur ayam, bakso, es cendol, sebut saja semua jenis dagangan baik makanan maupun bukan, bisa dipastikan sistem kongsi ini yang menjadi landasannya.

Menurut Toro, itu yang membuat jenis-jenis dagangan menjadi identik dengan suku tertentu. Seperti ketoprak misalnya, menjadi identik dengan orang Tegal dan Brebes. Bubur ayam, identik dengan Sukabumi, es dawet identik dengan Banjarnegara, dan seterusnya. Ini tidak berlaku absolut, sebagai misal, pedagang sate padang di Gintung, berasal dari beberapa kota Jawa, tidak ada orang Minang satu pun.

Toro dengan kongsi familinya, berdiskusi mengenai pembagian wilayah jajahan. Hal ini tentu amat diperlukan agar tidak terjadi rebutan konsumen antar mereka. Kadang pembagian wilayah ini tidak memuaskan salah satu atau dua dari mereka, hingga memutuskan untuk keluar dari kongsi.

Ya awit gemiyen wis kaya ngana kebiasaane. Sing siji ngasih tau liyane, daerah ngendi sing sekirane urung ana pesaing’e. Tapi ya namane menungsa kang, ana baen sing ora cocok nang ati. Biasane lunga, pindah kontrakan. Uwis biasa” (Sudah dari dulu kebiasaannya seperti itu. Saling memberitahu daerah mana yang belum ada pesaingnya (untuk dirambah). Tapi ya namanya manusia mas, ada saja yang tidak cocok di hati. Biasanya keluar, pindah kontrakan. Sudah biasa.), ungkap Toro.

Di waktu luang setelah berdagang, diisi dengan tukar informasi mengenai hari yang mereka lalui serta perkara-perkara terkait keluarga di kampung. Ada cerita soal ban gerobak yang kempes, gerobak terbalik dan menghancurkan isi dagangan, hingga anak yang minta dibelikan motor. Bahasan paling umum adalah utang pelanggan. Di masa paceklik, utangan-utangan ini jadi kegundahan yang diperbincangkan sembari menghisap rokok ketengan sembari seruput kopi instan.

Di kampung Toro punya rumah, tempat tinggal istri dan anak-anaknya. Di bulan puasa, Toro biasanya pulang kampung dan berdagang es, sebuah laku yang umum dilakukan oleh para pedagang-pedagang urban. Toro mengatakan bila si empu kontrakan bahkan tidak menarik uang sewa selama Toro di kampung, sebuah relasi kekeluargaan yang tercipta dari waktu yang berjalan. Si empu juga punya warung sembako, dimana Toro membeli semua kebutuhan dagangnya di warung tersebut. Hubungan mutualisme terjadi secara alami.

Rumah yang dibangun Toro berasal dari uang yang ia kumpulkan selama berdagang, ditambah “sumbangan nitip” dari sanak famili. Soal “sumbangan nitip” ini, Toro punya penjelasannya. Menurutnya, budaya “sumbangan nitip” masih berlaku kuat di banyak desa di Tegal, dimana sanak famili akan memberikan sumbangan dalam berbagai bentuk; bisa bahan bangunan, uang, atau tenaga untuk membangun. Sebutan “sumbangan nitip” karena ini seperti arisan – dimana laku serupa akan dilakukan kepada seluruh sanak famili secara turun-temurun.

Sudah jadi adat, si calon pemilik rumah akan berkeliling bahkan sampai luar kota, megunjungi sanak famili dan menyampaikan niatannya membangun rumah dengan harapan sanak famili akan memberikan “sumbangan nitip” serelanya. Menurutnya lagi, bila seseorang akan membangun rumah dan tidak mengabarkan sanak famili, akan dianggap angkuh dan tidak tahu adat. Hari pertama rumah mulai dibangun, keluarga serta kerabat dekat akan hadir untuk bekerja tanpa upah.

Laku budaya berbagi seperti ini yang Toro serta kongsinya lakukan ketika mereka berkumpul di Ibukota. Susah senang mereka bagi dan ikatan primordial dengan laku budaya jadi modal utama demi kemaslahatan hidup keluarga di kampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *