Lutfi Dan Batik Tengger

Hujan masih ragu untuk menghampiri tanah Jakarta. Beberapa hari ini langit terlihat tidak konsisten, gelap untuk beberapa saat, kemudian benderang terik. Hari ini tidak ada beda, cukup terik tapi pastinya sumuk alias gerah, kalau kata orang Jawa. Jam makan siang sudah lewat, dan saya masih berkutat dengan layar laptop di kantor Spektakel, sendirian – ditemani kucing peliharaan kantor.

“Permisi mas, mohon maaf saya mengganggu waktunya. Apa saya boleh masuk?”

Tetiba ada suara menyapa. Pintu kantor memang saya biarkan terbuka. Muncul seorang pemuda, dengan senyum ramah dan lebar. Menyapa saya dalam Bahasa Jawa kromo. Kebetulan saya memang mengerti walaupun tidak lancar berbicara kromo. Demi kepentingan pembaca yang beragam, maka dialog dalam tulisan ini saya tuliskan dalam Bahasa Indonesia saja, dengan sedikit campuran Jawa.

Mongo mas, silahkan. Ada perlu apa?”, balas saya tanpa lepas jari dari papan ketik.

Dengan sikap pakewuh, pemuda ini melangkah ke arah meja saya, sembari membuka tasnya, kemudian mengeluarkan gulungan batik.

“Saya mau menawarkan batik, siapa tahu masnya tertarik”, ucapnya masih sembari tersenyum. Saat itu saya baru menyadari bila suara pemuda ini halus sekali. Saya persilahkan ia untuk menjelaskan lebih jauh soal dagangannya.

“Ini batik dari serat eceng gondok mas. Yang buat masyarakat Tengger. Tekniknya pakai cap bambu, dan menggunakan pewarna alami”. Ia sodorkan kain itu ke saya dan saya sambut dengan seksama. Bahannya halus dan anehnya kain terasa lembab.

“Oh itu memang bahannya mas. Itu kenapa batik ini bagus untuk dijadikan kemeja karena menyerap keringat”, jelasnya.

“Mas, dari tadi menjelaskan saya tetapi kita belum kenalan”, balas saya seraya menyorongkan tangan.

Namanya Lutfi, asal Pasuruan, kelahiran tahun ’81. Dia dan keluarganya berbisnis batik serta kerajinan lain khusus produksi masyarakat Tengger, tepatnya warga desa Wonokitri. Di Pasuruan mereka punya toko. Sudah 8 tahun mereka menjalani bisnis ini. Tetapi profesi lain yang ditekuni Lutfi adalah supir wisata Jeep di Bromo.

“Mas Lutfi, ngobrol itu enaknya sambal ngopi. Tunggu saya sebentar nyeduh kopi ya”, ujar saya sembari beranjak ke pantry kecil kantor. Penolakan halus a la Jawa darinya tak saya hiraukan.

“Mas Lutfi, gimana ceritanya sampai jalan-jalan di Jakarta sembari menjajakan batik?”, tanya saya sembari menyeruput kopi.

“Kami ini habis ikut pameran di bilangan Thamrin mas. Selesai kemarin, dan saya bilang ke keluarga kalau saya mau jalan kaki putar-putar Jakarta. Saya belum pernah lihat Jakarta dengan berjalan kaki. Nah, sekalian saya menawarkan sisa dagangan dari pameran kemarin mas”, jelasnya panjang lebar.

“Trus, gimana Jakarta menurut mas?”, tanya saya.

“Hehehe, beda sama yang saya lihat di TV. Di televisi semua keliatan bagus – bagus saja. Ketika saya jalan kaki, lihat semua. Banyak kumuhnya mas”, ujarnya sambil tertawa kecil.

Obrolan ngalor-ngidul berlanjut. Lutfi menjelaskan kenapa secara khusus ia hanya menjual produk kerajinan dari desa Wonokitri. Sedari awal niatnya memang coba membantu warga sana yang menurutnya bisa membuat produk-produk kerajinan dengan kualitas wahid. Dia tidak terlalu khawatir dengan isu merebaknya batik dari Tiongkok yang konon mulai merambah pasar batik di Indonesia, tetapi ia sadar bila produsen-produsen kecil macam warga Wonokitri memang tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

“Mas Dimas, maaf saya harus pamit sebelum sore. Mau melanjutkan jalan lagi. Besok saya pulang ke Pasuruan”, pamitnya.

Saya meminta nomor kontaknya, sembari membayar satu batik pilihan saya. Harganya 275 ribu Rupiah. Selayaknya kesantunan Jawa, Lutfi menawarkan saya untuk mampir ke kotanya, atau bila saya ke Bromo dia bisa menemani.

“Cuaca masih panas mas, ga nanti ketika mulai adem saja jalannya?”, ujar saya berbasa-basi.

“Ah ndak apa mas, yang penting hatinya adem”, balasnya sembari tertawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *