Cikini Di Gondangdia, Aku Begini Karena Dia

Bagi pengguna moda transportasi kereta Commuterline, pastinya paham bila di beberapa titik stasiun di Jakarta menjadi pusat kuliner. Ada yang baru muncul beberapa tahun belakangan, ada pula yang memang sudah berakar sejak lama. Stasiun Gondangdia sebagai misal. Area seputaran stasiun ini dipenuhi tempat makan serta jajanan untuk berbagai kelas; mulai dari gerobakan, warungan, hingga restoran.

Area Gondangdia sendiri menyimpan catatan sejarah penting dan masih ada artefak-artefak sejarah yang tersisa dalam bentuk bangunan. Ada dua versi asal muasal nama Gondangdia. Versi pertama menyebutkan nama Gondangdia berasal dari pohon Gondang (sejenis beringin) yang banyak tumbuh di area ini, dan versi kedua mengatakan nama tersebut berasal dari nama keong Gondang, yang artinya keong besar – yang banyak terdapat di area tersebut.

Penampakan area Gondangdia tempo dulu.

Di sebelah stasiun, ada Pasar Boplo, yang terbakar di tahun 2012 – kemudian kini disebut Pasar Gondangdia. Pasar Boplo berasal dari gedung NV De Bouwploeg – perusahaan yang memberikan jasa perumahan mewah di kawasan Menteng dan Gondangdia. Gedung kantornya kini menjadi Masjid Cut Mutia. Nama Boplo diberikan bumiputera untuk mempermudah penyebutan nama gedung tersebut.

N.V. de Bouwploeg (pengucapan Melayu Betawi: Boplo) adalah perusahaan real estat pertama di Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1912 oleh arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen guna mengembangkan wilayah Nieuw-Gondangdia (kawasan Menteng).
Tampakan bangunan N.V. de Bouwploeg hari ini. Keindahannya tertutup oleh bangunan-bangunan sekitar.

Sekitar 100an meter dari stasiun Gondangdia, ada bangunan Tugu Kunstkring Paleis. Dibangun pada tahun 1913, sebagai pusat kegiatan seni serta kantor Lingkar Seni Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Kunstkring). Diresmikan pada tahun 1914 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Frederik Idenburg, dengan nama Gedung Bataviasche Kunstkring. Gedung ini mengalami beberapa kali perubahan fungsi; menjadi kantor pusat Madjlis Islam Alaa Indonesia (1942-1945) dan kemudian menjadi Kantor Imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997), sebelum kemudian terkena ruilslag lalu berpindah kepemilikan ke tangan swasta.

Sejak April 2013, bangunan ini dibuka kembali dengan nama Tugu Kunstkring Paleis, dan dikelola oleh Tugu Hotels & Restaurant Group sebagai restoran dan kafe kelas atas.

Kembali ke area stasiun dan bicara soal tempat makan dan jajan, Gondangdia adalah surga kecil. Ragam makanan serta jajanan terhampar di semua sisi jalan area stasiun. Tersedia sejak jam makan siang hingga makan malam. Bila Anda naik kereta dan turun di stasiun ini, baik di pintu keluar Utara maupun Selatan, Anda seperti dihadang oleh beragam pilihan makanan.

Saya sudah mencicipi beberapa warung makan di sana. Gudeg Yogya Bu Tinah, punya jaminan rasa yang yahud dan tampaknya juga menjadi salah satu primadona di kawasan itu, bersama soto dan sop kaki kambing Ibu Yanti.

Tidak jauh dari warung Ibu Yanti, biasanya mangkal gerobak es cincau dan cendol yang mesti dicicipi pembaca budiman. Melangkah ke utara, tepat di area pintu masuk/keluar stasiun, ragam penjual cemilan bertambah dua tahun belakangan ini. Favorit saya adalah gorengan bakwan dan ketan serundeng Betawi.

Anda juga akan menemukan beberapa gerobak roti Lauw, baik yang mangkal atau sekedar lewat. Ini produk bakery legendaris selain Tan Ek Tjoan. Roti Lauw mulai diproduksi tahun 1950-an. Ciri khas tekstur keras dan padat masih dipertahankan. Bedanya, roti Lauw Bakery dibuat di beberapa toko, di Pulo Gadung, Pondok Aren dan Fatmawati. Meski begitu, kemasan dan rasa di tiap toko tetap sama. Roti Lauw terkenal dengan roti gambangnya. Roti gambang sering juga disebut roti khas Betawi, dengan aroma kayu manis dan gula merah yang dominan.

Berkelana kuliner di area ini mengakibatkan lapar perut dan mata. Setelah berputar beberapa kali untuk mengambil foto, saya merehatkan kaki sejenak di warung es kelapa. Duduk bersebelahan dengan pasangan muda yang meneguk mesra es kelapa mereka, sembari mendengarkan pengamen menyanyikan lagu keroncong.

”Dari mana mau ke mana. Jiwa manis mau ke mana. Oooo… nona, potonglah rumput, potonglah rumput di tengah sawah. Cikini di Gondangdia, saya begini lantaran dia, lalalala ooo…”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *