Bu Maryam: Merajut Waktu

Payung besar dengan meja dagangan lusuh dan lapuk, bersender di tembok bangunan – pojok trotoar, terlindungi rindang pohon asam besar. Lapak dagangan sederhana sekali, menawarkan cemilan macam rempeyek, keripik, dan sejenisnya.

Tidak ada yang spesial dari lapak tersebut, kecuali penunggunya dikelilingi beberapa kucing. Mereka tampak begitu akrab dan intim. Salah satu kucing tersebut nampak manja, meminta sesuatu. Sang pemilik tertawa renyah.

Bu Maryam (90), demikian nama beliau. Saya berkenalan, kemudian berbincang, segera setelah meminta izin untuk memotretnya. Berbincang kami di warungnya, sembari sesekali bermain dengan salah satu kucingnya.

Beliau asal Pekalongan, bersama suaminya, mereka hijrah ke Jakarta tahun 1953. Dari penuturannya, tidak ada rancang bangun khusus ketika memutuskan pindah ke Ibukota. Angkat kaki dari desa, tiba di Gondangdia, dan tidak pernah pindah sejengkal pun sejak saat itu.

Mereka tinggal di jalan tersebut, menempati pos hansip hingga hari ini. Sang suami berprofesi sebagai hansip di jalan tersebut hingga dipensiunkan karena sudah terlalu renta.

Kadang mereka pulang kampung, dimana Bu Maryam akan mengisi hari-harinya untuk membatik, hal yang tampaknya sudah mendarah daging. Beliau menuturkan bahwasannya keahliannya adalah batik tulis tangan. Ia bisa menggambar tanpa cetakan pola, hanya berdasar memori serta intuisinya.

Ketika ditanya kenapa beliau dan suami lebih memilih tinggal di Jakarta, dengan yakin beliau menjawab bila di Jakarta lebih mudah untuk mengais rezeki. Di desa, sekedar mencari uang seribu Rupiah, terasa sulit sekali. Di Jakarta, mengais receh bukan masalah besar, tuturnya.

“Jadi Ibu duduk di sini sejak tahun 1953?”, tanya saya dengan gurau.

“Hahaha iya mas. Dulu awalnya saya dagang di stasiun Gondangdia, sampai masa peremajaan stasiun. Kemudian geser ke tempat ini”, jelasnya.

“Berarti ibu menyaksikan situasi Gestapu ya?”, tanya saya. Pertanyaan ini muncul begitu saja.

“Oh iya. Serem! Saya sama suami ga ngerti apa yang (sedang) terjadi. Suasananya nakutin, ga berani dagang. Mau pulang kampung juga ga bisa”, ujarnya.

Berteman tujuh ekor kucing, Bu Maryam tampak menikmati kesehariannya. Duduk di tempat yang sama, menatap ruas jalan yang sama. Saya coba membayangkan rasanya tak beranjak dari tempat yang sama untuk waktu lama.

“Karena ibu tinggal dan dagang di sini sejak lama, apa rasanya ketika melihat jalanan yang sama?”.

“Ya begitu saja mas, lihat orang mondar-mandir. Kendaraannya berubah, tetapi orangnya sama”, ujarnya sembari terkekeh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *