Synchronize Fest; Persaudaraan Dalam Tegukan

Posted on

Saya punya teori ada dua hal yang bisa merekatkan hubungan kaum muda: ghibah dan alkohol. Terutama yang kedua. Sebab yang kedua bisa melancarkan proses yang pertama. Dan keduanya punya persoalan di Jakarta. Apa pasal?

Tempat ghibah dan alkohol yang bersifat komunal, di kota seperti Jakarta sudah dikonversi menjadi ruang-ruang tanding sosial. Ruang-ruang ini terkemas fancy, dan terendus ‘kode etik’ kelas menengah tentang cara berpenampilan hingga preferensi obrolan.

Teriakan penonton ke penampil pujaan hati. Synchronize Festival menyatukan beragam jenis penonton. Foto oleh Alfi Prakoso.

Dengan kata lain, tidak lagi secair dan sesantai ngumpul di sembarang tempat yang memungkinkan ritual buka – tuang – tenggak, berjalan dengan khidmad. Pun kalau itu bias terjadi, maka ruang-ruang semi-privat seperti kos-kosan yang menjadi pilihannya.

Maka, ketika acara yang kata Jimi Multhazam adalah “Hari Raya Musik Nasional” awal Oktober lalu, Synchronize Fest berlangsung, ia seperti menjelma menjadi ruang ambyar yang diidam-idamkan.

Festival musik yang satu ini spesialis festival untuk merayakan musisi-musisi lokal. Mulai yang paling obscure hingga yang paling mainstream. Jadi jangan heran kalau berbagai macam manusia dalam spektrum “anak indie” tumpah ruah di festival ini. Mulai dari anak indie kopi senja, aktivis skena ibukota, hingga anak-anak Senoparty semua hadir tanpa pretensi.

Dari metal sampai pop melayu, semua hadir di sini. Demokrasi selera. Foto oleh Alfi Prakoso.

Beragamnya konten yang ditawarkan boleh jadi salah satu alasannya. Tapi toh bukan satu-satunya.

Synchro, demikian sebutan kerennya, bukan cuma soal musik. Tiket early bird untuk three-days-pass ludes dalam sekitar setengah jam setelah penjualan dimulai. Saya salah satu yang beruntung, itu pun melibatkan dua sahabat saya yang lain untuk turut mengakses web mereka yang down seketika begitu penjualan dibuka. Padahal belum ada satu pun line up yang diumumkan.

Didi Kempot memandu koor para sobat ambyar. Lord Didi, begitu panggilan resminya, adalah salah satu bintang yang paling ditunggu di Synchronize Festival tahun ini. Foto oleh Alfi Prakoso.

Mengapa bisa ludes seketika? Alasannya dua: kami semua begitu percaya dengan konten yang ditawarkan penyelenggara atau kami hanya mencari wadah transaksi sosial yang tak bisa didapat dalam keseharian.

Naik Kelas

Synchro memang menjelma jadi tempat reuni, nongkrong, dan mabuk sampai hilang kesadaran. Tak hanya tiket masuknya yang murah meriah, begitu pula harga alkohol yang ditawarkan di dalamnya. Berbeda dengan festival-festival lain yang menawarkan produk alkohol fancy, Synchro identik dengan Anggur Merah Orang Tua (AO) dan Intisari, dua minuman alkohol dengan ramah di kantong tapi tak ramah di liver. Meski ada pula pilihan minuman lain seperti Guiness dan Jack Daniel’s, AO yang ada manis-manisnya itu tetap jadi primadona. Antriannya mengular bak antrian sembako.

Muda dan digdaya. Festival ini merayakan musisi-musisi Indonesia dari lintas genre dan generasi. Foto oleh Alfi Prakoso.

Saya cukup tergelitik melihat fenomena bagaimana AO dan Intisari kini jadi hal lumrah, bahkan primadona, di kalangan anak muda ibukota. Kedua minuman ini sebelumnya beredar di kalangan nir-finansial, seperti anak rantau yang uang bulanannya pas-pasan. Kasta agak di atas sedikit adalah Vodka Tangerang, vodka lokal yang sulit dipertanggungjawabkan kadar keselamatan liver bila meminumnya.

Masa dimana warung jamu pinggir jalan masih jadi pemandangan umum di Jakarta, disitulah AO dan Intisari berada. Khususnya Intisari, ia adalah menu “bawah meja” – artinya, hanya pelanggan tetap atau yang memang tahu “aturan” bisa memesannya.

Persaudaraan Dalam Tegukan

Mabuk menjadi norma baru di Synchro. Pertanyaan “Gimana, aman?” menjadi kata sapaan saat berjumpa rekan-rekan sejawat, memastikan apakah kondisi yang bersangkutan masih sadar atau sudah tinggi di awang-awang. Asupan alkohol dari siang atau sore hari hingga malam memastikan kebanyakan orang berada dalam posisi optimal untuk berpesta menikmati sajian musik apa pun yang ditawarkan penyelenggara.

Peduli setan apakah mereka paham lirik-lirik lirih Didi Kempot, aliran alkohol dalam darah membuat mereka semua siap bergoyang dengan iringan musik apa saja yang ada. Begitu pula darah yang kian hangat dan melambat justru membuat lebih lepas mengeluarkan hasrat kealayan saat berkaraoke bersama Radja, Kangan Band, Setia Band, dan Wali.

Lord Didi, simbol persatuan selera. Foto oleh Alfi Prakoso.

Daya tarik Synchro memang tak cuma konten musik yang mereka tawarkan. Di tengah situasi di Jakarta yang semakin religius-normatif, Synchro jadi semacam oase selama tiga hari di mana mereka yang datang bisa memuaskan hasrat untuk berpesta. Dengan menyempitkan akses-akses hiburan untuk kaum-kaum muda dari kelas menengah bawah, Syncro menawarkan kegembiraan bagi sobat misqueen.

Urusan mabuk mungkin tak jadi soal bagi mereka yang berduit. Adalah fakta bahwa moral hanya menjadi kewajiban bagi yang tidak berpunya. Makanya hanya hotel-hotel melati dan kos-kosan bobrok yang selalu jadi objek razia, begitu pula warung-warung jamu penjaja alkohol murah. Sementara hotel-hotel berbintang dan klab-klab elit Senopati hampir tak tersentuh.

Maka Synchro dengan tiketnya yang amat terjangkau—tiket early bird untuk akses tiga hari hanya Rp250.000—dan kebebasan di dalamnya menjadi sebuah dunia yang lain bagi para kaum muda Ibu Kota. Di sinilah mereka bisa hidup dengan rutinitas pesta-mabuk-tidur layaknya rockstar selama tiga hari tanpa penilaian orang dan tanpa tanggungan moral. (SIR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *