Banda Neira

Bila kita mau bicara soal pentingnya Indonesia di peta dunia, kita harus memulainya dengan perbincangan dengan menyebutkan Banda Neira, wilayah kepulauan di Maluku Tengah – menyimpan catatan sejarah yang akan membuka mata kita tentang kolonisasi dan bagaimana Nusantara menjadi incaran para penjajah Eropa.

Sejak abad 16, rempah-rempah menjadi komoditas seperti emas, berharga tinggi dan diperebutkan. Kepuluan Banda kemudian diangap sebagai pusat rempah-rempah, utamanya pala yang kemudian menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa.

Belanda ingin memonopoli perdagangan rempah dunia, dan salah satu cara yang mereka tempuh dengan menaklukan Banda. Kisah pembantaian masyarakat Banda dimulai pada tahun 1621. Dipimpin oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-empat (1619-1623), Jan Pieterszoon Coen, Belanda membantai habis orang Banda. Dari populasi 14.000 jiwa di kepulauan Banda, hingga hanya tersisa 480 jiwa.

Buah pala, komoditas dengan harga setinggi langit pada abad 16. Menjadi komoditas rebutan negara-negara Eropa. Tidak sekedar sebagai penyedap rasa, buah pala juga dianggap ampuh sebagai obat.

Salah satu pulau di Banda, bahkan menjadi catatan penting sejarah dunia. Pada tahun 1616, Inggris tiba di Pulau Run dan melakukan kontrak dagang dengan penduduk setempat yang menyatakan Inggris membeli rempah-rempah, khususnya pala, di pulau tersebut. Namun, pada akhirnya Inggris menyatakan bahwa Pulau Run merupakan wilayah koloni mereka.

Belanda yang kala itu sudah menguasai Maluku tidak rela melepaskan Pulau Run kepada Inggris, hingga keduanya menyatakan perang. Perebutan pala oleh bangsa Inggris dan Belanda ini terjadi hingga akhirnya mereka mengangkat bendera putih pada 31 Juli 1667. Kemudian mereka membuat Perjanjian Breda, yang ditanda tangani di kota Breda, Belanda.

Isi utama dari perjanjian ini adalah kerajaan Inggris harus angkat kaki dari Pulau Run, dan sebagai gantinya Belanda menyerahkan Pulau Manhattan yang menjadi koloninya kepada Inggris.

Kepulauan Banda juga memanggul sejarah sebagai tempat pembuangan bagi tahanan politik Belanda. Pulau Neira, salah satunya, adalah penjara sekaligus surga bagi para tahanan politik zaman Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Sejumlah tokoh besar seperti Tjipto Mangunkusumo, Iwa Kusuma Sumantri, Sutan Sjahrir, dan Mohammad Hatta pernah diasingkan (1936-1942) di sana.

Lansekap Banda yang tidak salah bila disebut sebagai kepingan surga Timur Indonesia.

Terlepas dari guratan kelam sejarahnya, Kepulauan Banda adalah gambaran dari ‘surga dunia’. Lansekap alam yang indah sungguh tidak terbantahkan. Panorama hijau yang melingkupi pulau-pulau serta gunung, berpadu dengan alam bawah laut yang mencengangkan.

Serpihan peninggalan zaman kolonial masih ada, seperti Benteng Belgica – merupakan benteng VOC yang dibangun di atas sebuah bukit, berada di sebelah barat daya Pulau Neira dan terletak pada ketinggian 30 meter dari permukaan laut. Sungguh mengagumkan melihat pemandangan di sekeliling saat berdiri di benteng yang dibangun pada tahun 1611 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Bot ini.

Rumah Hatta dan Sjahrir selama pengasingan.

Karena posisinya yang strategis, sehingga dari sini kita bisa melihat ke segala penjuru pulau. Kala itu keberadaan Benteng Belgica memudahkan VOC mengawasi kapal-kapal yang keluar masuk Banda. Di bagian tengah benteng terdapat sebuah ruang terbuka luas untuk para tahanan. Di tengah ruang terbuka, pengunjung bisa melihat dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai.

Banda juga surganya para pecinta snorkeling. Kejernihan air laut dengan pemandangan alam bawah laut yang luar biasa, menjadikan Banda sebagai salah satu destinasi utama.

Kuliner Banda khas dengan olahan ikan. Di beberapa sudut Banda Neira, terdapat penjual ikan asar – ikan asap yang umumnya tuna berukuran sedang. Dijual bersama buras dan suami, serta sambal rica sebagai pelengkap. Buras terbuat dari beras, seperti lontong dengan cita rasa yang lebih gurih.

Teh kayu manis, minuman harian warga Banda.

Sedangkan suami terbuat dari ubi kayu yang diparut, diperas sari patinya, lantas dikukus. Biasanya di meja sang penjaja, suami berbentuk kerucut, sebelum akhirnya dipotong sesuai keinginan pembeli. Suami cita rasanya cenderung tawar, dengan tekstur padat agak kenyal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *