Perjalanan Interstellar Gamelan Jawa dan Penari Bali

Posted on

Salah satu pertanyaan tertua dan setiap saat dikumandangkan adalah; apakah kita sendiri di alam semesta ini? Menurut Badan ruang angkasa Amerika Serikat (NASA), luasan semesta yang bisa diobservasi adalah 13.8 triliun cahaya, dengan jumlah 100 triliun galaksi, dan ada 100 triliun bintang di galaksi Bimasakti saja. Angka-angka ini terus bertambah, seiring penelitian membuktikan bila semesta kita selalu berekspansi.

Jadi, apakah mungkin kita, Homo sapiens sapiens, sendirian di semesta ini? Tidakah ada sejumput kemungkinan, adanya peradaban seperti kita, atau bahkan lebih maju? Ini adalah mimpi basah semua ilmuwan dan tak pernah berhenti untuk mencari pembuktian.

Tidak terkecuali bagi Carl Edward Sagan (1934 – 1996), seorang astronomer, kosmologis, astrofisikawan, astrobiologis, penulis, ilmuwan populer yang ditunjuk oleh NASA untuk memimpin proyek Voyager Golden Record; proyek meluncurkan cakram emas rekaman fonograf – jauh ke luar angkasa.

Cakram emas berisikan data suara serta gambar analog yang dipilih untuk menggambarkan keanekaragaman kehidupan dan budaya di Bumi, dan ditujukan kepada segala bentuk kehidupan makhluk luar angkasa yang cerdas, atau untuk manusia masa depan, yang mungkin menemukannya. Cakram ini juga sebuah kapsul waktu bagi peradaban kita. Diluncurkan menggunakan wahana luar angkasa Voyager pada tahun 1977.

Voyager Golden Record

Gamelan Jawa dan Penari Bali

Cakram emas tersebut berisikan 116 gambar dan berbagai macam suara, seperti ombak, angin, guntur, dan hewan, termasuk nyanyian burung, paus serta lumba-lumba. Terdapat musik-musik terpilih dari berbagai budaya dan era, ucapan salam dalam lima puluh sembilan bahasa, serta suara manusia lainnya.

Tidak mudah bagi komite yang dipimpin oleh Carl Sagan untuk memilih konten-konten tersebut. Konon Sagan bahkan ingin memasukan lagu The Beatles, ‘Here Comes The Sun’, tetapi ditolak mentah-mentah. Bagaimanapun, cakram emas ini harus membawa musik, gambar, suara terbaik yang bisa mewakili peradaban bumi.

Foto penari Bali yang masuk dalam seleksi konten Voyager Golden Record.

Dari proses seleksi, terpilihlah dua konten dari Indonesia; gambar perempuan penari Bali dan musik gamelan dari Jawa yang berjudul Puspawarna, dimana liriknya dibuat oleh Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV dari Surakarta (1853-1881). Puspawarna dimainkan Tjokrowasito (K.P.H. Notoprojo), maestro gamelan Indonesia di masanya. Tahun 1971, dia pindah ke California untuk mengajar gamelan di Institut Seni California dan mencetak generasi-generasi pertama musisi gamelan di Amerika.

Tjokrowasito (K.P.H. Notoprojo).

Puspawarna berdampingan dengan karya-karya maestro dunia gubahan Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven. Konon, suara magis dari Puspawarna ini dianggap mampu mengilustrasikan penciptaan semesta.

Perjalanan Tak Berbatas

42 tahun sudah Voyager mengarungi lautan semesta, hingga ke jarak yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Menurut para ilmuwan, kecil sekali kemungkinan Voyager bertemu atau ditemukan oleh mahluk luar angkasa cerdas – dan mungkin saja ditemukan kembali oleh cucu-cicit kita di masa depan, sebagai sebuah kapsul waktu.

Kita bisa mengikuti perjalanan Voyager Golden Record dengan visual yang menarik di website www.goldenrecord.org, termasuk halaman interaktif yang mengupas cakram emas tersebut.

Dalam salah satu isi ucapan salam di cakram tersebut, terdapat suara Ilyas Harun yang mewakili Indonesia; “Selamat malam, hadirin sekalian. Selamat berpisah dan sampai bertemu lagi di lain waktu”. Boleh jadi, para alien malah paham apa yang Ilyas sampaikan, mampir ke Bumi untuk mendengarkan dendang gamelan sembari menyeruput kopi tubruk.

Sumber:
Voyager mission 40th anniversary special – www.sciencefocus.com
Carl Sagan – en.wikipedia.org
How Big is the Universe? – www.space.com
Musik Gamelan di Luar Angkasa – www.historia.id
Whats On The Record – voyager.jpl.nasa.gov

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *