Dataran Tinggi Lore: Saya Lihat, Terpikat, Lalu Terjerat! (Bagian II)

(Lanjutan dari tulisan sebelumnya…)

Lembah Besoa akhirnya dapat kami capai setelah sebelumnya kami menginap satu malam di Gunung Pontoa, sebutan lokal untuk perbukitan berhutan lebat yang menengahi Bada dan Besoa. Sulit saya menemukan ungkapan yang pas untuk mendeskripsikan perjalanan lintas lembah itu. Hutan montana dengan tutupan vegetasi yang rimbun membuat sinar matahari sulit menembus sampai ke dasar. Berbagai jenis lumut tumbuh sembarang hingga setinggi separuh batang-batang pepohonan. Di sepanjang perjalanan, sampah dedaunan yang belum terurai sempurna menutupi jalur, siap lapuk tuk menjadi humus. Tumpukannya empuk, seolah kami berjalan di atas busa. Berada di tengah hutan tersebut terasa seperti dalam sebuah film fantasi petualangan berbujet besar. Epik, tapi kami menjadi kecil saja.

Setibanya di Lembah Besoa, penginapan adalah destinasi pertama yang kami tuju. Hari telah senja, pergi membersihkan diri setelah menghabiskan dua hari di dalam hutan adalah pilihan terbaik. Esok hari, kami akan lanjut mengunjungi peninggalan megalit di Lembah Besoa dan Lembah Napu. Dua lembah dalam satu hari mengharuskan kami menyewa kendaraan agar dapat menunaikannya. Tidak ada pilihan lain, karena kami harus secepatnya menuju palu untuk kembali ke Jakarta. Menurut pemandu kami, hal ini lumrah saja. Karena kalau tidak dibatasi, perlu banyak waktu untuk melihat semua megalit di Lembah Besoa dan Lembah Napu. “Minimal seminggu untuk mengunjungi semuanya,” terang sang pemandu. Baiklah, esok kami hanya akan mengunjungi beberapa kompleks yang menjadi ikon saja. Pengobat kecewa atas singkatnya waktu yang kami punya.

***

Ritme hidup di Lembah Besoa dan Lembah Bada sama saja. Berjalan perlahan tanpa gemuruh. Harum lembahnya pun mirip. Kami bertemu dan mampir sejenak ke rumah seseorang. Bapal berbadan tegap dan tinggi besar itu memperkenalkan diri sebagai Tarzan. Meski kami yakin itu bukan nama aslinya, tetapi beliau bersikeras meminta untuk dipanggil demikian. Kemana pun pergi, ia lebih suka bertelanjang kaki, kecuali saat ke gereja. Halaman rumahnya cukup luas dan tertata apik. Rerumputan dipangkas sempurna dan berbagai tanaman dari hutan tumbuh subur asri. Rumahnya yang besar hampir selesai dibangun dengan cita rasa modern.

Istrinya menemani kami beberapa saat sebelum akhirnya pamit pergi bekerja, berdarma dengan menjadi kepala sekolah salah satu SMP negeri di Besoa. Sementara Pak Tarzan adalah seorang petani yang cukup berpengaruh di Besoa. Senang pergi ke hutan dan selalu menghimbau warga agar tidak mengambil apapun sembarangan tanpa memikirkan kelestariannya. Soal peninggalan budaya, pria baik hati ini tidak kekurangan semangat pula membicarakannya. Ia protes kenapa replika kalamba Besoa yang ada di Museum Palu dan Taman Mini Indonesia Indah begitu jelek. Tidak mencerminkan sedikit pun keagungan barang aslinya. Katanya, ia tidak akan mau berkunjung lagi ke dua tempat tadi, karena sebal dan hanya membuat tekanan darahnya meningkat. “Orang-orang yang tidak berbudaya!” lanjutnya. Aura dan gairah sosok ini tampaknya cocok untuk dijadikan karakter dalam salah satu cerita pendek Borges.

Baiklah, Pak Tarzan, kami pamit dulu. Karena obrolan hangat tadi, kami jadi lupa bahwa kami belum mengunjungi satu megalit pun di Lembah Besoa. Sayangnya, baru kami sadari setelah berlalu, kami lupa berfoto bersama Pak Tarzan. Maka jadi satu tekad, jika pergi ke Besoa lagi, kami akan kunjungi Pak Tarzan lalu berfoto bersama.

Kemudian kami langsung menuju situs Pokekea demi melihat bukti keagungan kalamban seperti cerita Pak Tarzan. Begitu tiba, kalamba-kalamba ini memang bagus sekali! Berbeda tingkat kehalusan produknya dengan kalamba di Lembah Bada. Kalamba dalam berbagai ukuran tampak terserak berdekatan di Pokekea. Entah kenapa. Kalamba paling besar yang tercatat di seantero Plato Lore pun ada di sini. Tuatena (megalit yang dianggap sebagai tutup kalamba) juga ada beberapa. Terlihat jelas dari hasilnya bahwa para pembuat benda-benda ini menguasai geometri dan sangat paham soal estetika. Takjub dan gugup datang bersamaan saat paham bahwa para leluhur penghuni Nusantara telah mampu membuat ini semua ribuan tahun lalu.

Ya, ribuan tahun usianya. Demikianlah keterangan yang kami dapatkan dari Juru Pelihara Situs Pokekea, Sunardi. Paling tidak itulah yang disampaikan oleh para peneliti pada Sunardi. Sayangnya, dari keterangan Sunardi diketahui bahwa penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Indonesia ini masih bersifat sporadis saja. Belum pernah dilakukan penelitian yang berkesinambungan dan masif tentang budaya megalitikum di seluruh kawasan Plato Lore. Di salah satu situs pun belum pernah. Penelitian hanya berjalan maksimal satu bulan saja dan paling sering hanya setahun sekali datangnya.

Komplek situs Tadulako adalah tujuan kami berikutnya. Tadulako atau panglima perang dalam bahasa lokal memang tampak sebagai lelaki yang berwibawa. Di atasnya ukiran bergelombang tampak jelas. Entah menggambarkan rambut, ikat kepala atau jenis penutup kepala lainnya. Di komplek ini juga terdapat banyak kalamba. Bedanya dengan komplek Pokekea, kalamba-kalamba di komplek Tadulako menyebar cukup berjauhan. Seperti sengaja ditaruh dalam jarak tertentu. Ada pula kalamba yang masih lengkap tertutup tuatena meski badannya separuh terkubur dalam tanah. Puas berpanas-panasan di komplek Tadulako, kami lanjut menuju Lembah Napu.

Di Napu kami mendapati tiga patung berukuran sedang. Ketiganya ada di dalam pekarangan rumah warga dan tidak terlalu berjauhan lokasinya. Menurut obrolan dengan orang sekitar, ketiga patung ini aslinya tidak terletak di dalam pekarangan rumah-rumah itu. Mereka telah dipindahkan. Ada dua alasan mengapa ini dilakukan. Pertama, secara adat patung batu bisa diletakkan di depan rumah kepala adat atau orang yang sangat dihormati. Kedua, dan ini alasan utamanya, untuk menjaga keamanan patung-patung tersebut dari tindak pencurian. Ya, di era 1980an hingga awal dekade 1990an rawan terjadi pencurian terhadap kalamba-kalamba dan patung-patung di kawasan Lore. Entah sudah berapa yang berhasil dicuri, karena data lengkap peninggalan megalitikum di Lore saja tidak ada. Banyak pula yang berubah posisi, karena telah dipindahkan kawanan pencuri. Tetapi, belum sempat mereka selesaikan tindakannya, karena ketahuan warga. Lalu kalamba atau patung itu ditinggalkan begitu saja.

Perjalanan menuju Kota Palu dari Lembah Napu kami minta untuk pelan-pelan saja. Tidak perlu terburu-buru. Hati dan jiwa kami belum mau pergi dari Dataran Tinggi Lore. Berbagai memori dan informasi yang kami dapat di Lore masih coba kami cerna, belum mampu kami telan. Memorinya memang nyata, tetapi informasinya masih terselubung kabut. Terutama tentang budaya megalitikumnya. Semua samar. Hanya folklor-folklor yang kami dapat dari pemandu dan orang-orang lokal yang kami temui. Pengetahuan ilmiah yang kami dapat hanya sebatas perkiraan usia megalit oleh para peneliti melalui mulut para juru pelihara situs, yaitu didirkan antara tahun 1500 SM hingga tahun 500 M. Juga perkiraan bahwa kalamba adalah wadah kubur. Perkiraan bahwa patung-patung adalah tempat pemujaan. Semua perkiraan belaka dan masih berhenti di situ saja. Ini layaknya berjalan di tengah hutan lebat yang diselubungi kabut tebal. Kita tahu ada pepohonan di sekeliling kita, tapi kita tidak mampu mengidentifikasi jenis, kegunaan, dan mengapa pohon-pohon itu ada di situ. Tidak ada usaha untuk menyibak kabut tadi. Usaha memegang pepohonan pun tidak.

Jika megalit-megalit itu adalah hasil perkembangan suatu peradaban, mari kita cari tahu siapakah yang membuat ini semua? Kapan dimulai dan mengapa berakhir? Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu saja belum akan ditelusuri jawabannya.

Menurut “asumsi mudah” yang ditarik para peneliti, dari berbagai sumber yang saya baca kemudian, semua peninggalan megalitikum tersebut bukan hasil karya masyarakat yang mendiami Lore saat ini. Masyarakat yang ada saat ini datang sekira 5-6 abad yang lalu, lama setelah peradaban yang membuat megalit-megalit ini lenyap. Alasan para peneliti, karena kecakapan berkarya dengan batu-batu besar tidak dipunyai oleh masyarakat Lore sekarang. Asumsi kontroversial yang ditentang oleh masyarakat Plato Lore. Meski memang cukup masuk akal penolakannya. Lalu, ke mana peradaban pembuat megalit ini pergi jika itu “asumsi mudahnya”? Apakah ada hubungan antara patung-patung di Lore dengan moai-moai di Pulau Paskah? Apakah ada kaitan antara kalamba di Lore dengan kalamba di Plain of Jars di Laos? Apakah-apakah dan mengapa-mengapa lainnya masih berjejer terus mengikuti.          

Jelas buat saya, para pencipta megalit-megalit ini datang dari masyarakat maju. Masyarakat yang swadaya bahkan makmur. Eksistensi mereka tidak lagi sekedar memikirkan isi perut selanjutnya apa. Masyarakat yang telah terstruktur dan terspesialisasi, yang telah menatahkan cerita dan pengetahuan mereka melalui medium batu-batu besar. Batu-batu besar yang masih sabar menunggu untuk ditelusuri perihalnya. Lain tidak, cara satu-satunya menelusuri perihal itu adalah dengan penelitian dan pengkajian. Penelitian yang seharusnya terus dilakukan tanpa terputus untuk menyibak berbagai lapisan harta karun peradaban Lore. Imbasnya tentu akan banyak sekali jika kita berhasil menjahit satu demi satu hasil penelitiannya.

Ayolah, ini warisan sejarah, kawan! Ayo bangun!

Jangan secara naif berharap dapat selesai mencari tahu hanya dengan menyediakan waktu satu bulan dalam setahun. Itu pun jarang-jarang dilakukan.

Sekarang saya jadi paham kesebalan dan kekecewaan Pak Tarzan. Saya di pihak anda, Pak.

 

Salam!

(Dedicated to the great memories of VBS and TSS)       

People and places of Indonesia. In living colours random pictures.

One Reply to “Dataran Tinggi Lore: Saya Lihat, Terpikat, Lalu Terjerat! (Bagian II)”

  1. Mas Kelik, entah seperti apa yang kehidupan zaman megalitikum di dataran tinggi Lore ini. Entah seperti apa ritual ibadah mereka. Dan batu-batu besar itu entah berfungsi sebagai apa? Andai saja ada mesin waktu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *