Dataran Tinggi Lore: Saya Lihat, Terpikat, Lalu Terjerat (Bagian I)

Sulawesi. Pulau yang bentuknya mirip huruf K ini selalu mampu menampillkan kejutan tersendiri. Saat kamu mengira bahwa dirimu telah banyak menyibak lapisannya, selalu ada lapisan baru yang muncul ke muka. Lapisan-lapisan yang tanpa akhir sepertinya.

Menurut kesimpulan para ahli, Sulawesi terbentuk dari gabungan serpihan dua benua: Asia dan Australia. Entah bagaimana, gerak lempeng tektonis kedua benua tadi menyatukan Sulawesi menjadi bentuknya yang sekarang. Karena proses terbentuknya unik, maka tidak mengundang tanya bagi saya soal kekayaan pulau ini. Bahkan Alfred Russel Wallace pernah berkomentar tentang kekayaan Sulawesi sebagai “sesuatu yang luar biasa kaya, namun dalam formasi yang aneh… Dalam beberapa kasus, benar-benar unik di dunia.” Persoalannya kemudian bagi saya adalah sepertinya untuk menikmati semua kekayaan tadi dibutuhkan waktu lebih dari satu masa hidup manusia normal.

Salah satu kekayaan Sulawesi yang belum lama saya kunjungi adalah plato – dataran tinggi, bukan sang filsuf itu –. Namanya Dataran Tinggi Lore, terletak di Provinsi Sulawesi Tengah. Sebagian wilayahnya masuk dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang ditetapkan pada tahun 1982, namun baru diresmikan pada tahun 1993. Taman nasional ini merupakan habitat mamalia endemik Sulawesi. Babirusa (Babyrousa celebensis), anoa (Bubalus sp.), tarsius alias kera hantu (Tarsius spectrum), monyet hitam togean (Macaca tonkeana), kuskus (Phalanger ursinus, Phalanger celebensis) adalah beberapa dari keseluruhan jenis hewan menyusui endemik yang hidup di Taman Nasional Lore Lindu. Tutupan hutan yang masih sangat baik serta variasi letak ketinggiannya menjadikan lokasi ini surga bagi para peneliti ragam botani. Salah satu hutan hujan tropis dalam kondisi terbaik yang tersisa di Sulawesi.

Selain koleksi flora dan faunanya, Plato Lore juga menyimpan koleksi lain dalam bentuk peninggalan batu-batu besar (selanjutnya disebut megalit). Peninggalan kebudayaan manusia ini tersebar di Lembah Bada, Lembah Besoa (atau Behoa), dan Lembah Napu. Bahkan belakangan diketahui ada pula peninggalan megalit di selatan lembah Bada, yaitu di Lembah Rampi yang masuk dalam kawasan Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Megalit yang ada di dataran tinggi Lore terbagi dalam beberapa jenis, yaitu patung-patung batu dalam berbagai ukuran dan bentuk; kalamba atau wadah batu besar berbentuk tong/drum; tuatena atau tutu’na, piringan batu penutup wadah kalamba; batu dakon, batu-batu berbidang rata atau cembung dengan tatahan corak di bagian atasnya; serta megalit-megalit lain dalam bentuk tiang batu (menhir), altar batu (dolmen), dan umpak-umpak batu.

Untuk megalit-megalit inilah saya datang ke Dataran Tinggi Lore! Gambaran-gambaran dan fantasi mengenai megalit ternyata membuka kedunguan saya bahwa ada hal lain yang bisa diketahui jika kita pergi ke Plato Lore.

Setibanya di Poso, kota yang sempat hancur akibat konflik sectarian, saya buru-buru mencari angkutan menuju Tentena. Bukannya apa-apa saya ingin pergi secepatnya dari Poso, kota ini sangat panas! Sebelumnya saya ke Banggai. Mandi sinar matahari selama satu minggu di sana cukup purna bagi saya untuk mengakrabi teriknya matahari. Saya tahu mulai dari Poso ke Tentena hingga ke Lembah Bada elevasi meningkat signifikan. Memasuki daerah dataran tinggi, dingin udara tentu akan menyapa.

Saya tidak keliru. Setibanya di Tentena, kesejukan terasa. Saya memutuskan untuk berhenti makan siang dulu di kota kecamatan yang kecil nan tenang ini. Makan sore lebih tepatnya. Menenangkan perut dan jiwa diperlukan pascaperjalanan dari Poso menuju Tentena yang baru dialami. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 1,5 jam molor menjadi 3 jam. Penyebabnya, karena saya menumpang mobil Toyota dekil produksi abad lalu yang disopiri Papa Dian (atau bisa dibaca: bapaknya si Dian). Bukan karena dekilnya, mereknya, tahun produksi atau sopirnya, Papa Dian. Masalahnya, mobil ini ternyata juga mengangkut berbagai barang titipan yang pertama-tama harus diambil dulu, lalu diantarkan satu per satu menuju alamat yang dituju. Dari Poso ke Tentena juga sebaliknya. Banyak pihal mengandalkan Papa Dian, mulai dari para oma yang ingin mengirim mainan untuk cucu-cucu mereka hingga paket barang perusahaan pos milik negara. Tidak akan saya bagi di sini serunya perjalanan bersama Papa Dian. Terlalu rumit dan aneh. Takutnya, tulisan ini jadi semakin panjang dan lebar. Baiknya dibuat cerpen saja nanti.

Selepas makan sore, saya memutuskan untuk menginap dulu di Tentena. Kota yang terbentang di salah satu sudut Danau Poso ini mempunyai aura yang kalem. Sepertinya, tidak salah untuk memperlambat tempo hidup, bernapas dalam-dalam, lalu tertular aura kalem itu. Kami pergi ke Dodoha Mosintuwu untuk menginap dan makan malam. Kami pun membuat janji untuk bertemu pemandu lokal kami saat makan malam di sana. Ia adalah sosok terpercaya rujukan teman baik saya dari Cinta Bumi Artisan. Tapi itu nanti. Sore itu sepertinya mandi dengan belaian sejuk air Danau Poso lebih masuk akal.

Keesokan harinya, singkat cerita, setelah bertemu dengan sang pemandu, makan malam enak dan cukup tidur di Dodoha Mosintuwu, kami berangkat menuju Lembah Bada. Hari telah siang saat kami berangkat, tiga pelancong dari Jakarta dan seorang pemandu asal Lembah Bada. Jelas sekali kami tertular virus kalem dan santai di Tentena. Bergerak terburu-buru di pagi hari menjadi pilihan yang dikesampingkan.

Perjalanan dari Tentena menuju Lembah Bada ditempuh dalam tempo tiga jam. Beruntung cuaca sangat baik. Tidak hujan dan berkabut saat kami melintasi perbukitan yang merintangi perjalanan dari Tentena ke Lembah Bada. Jika terbit kabut, kendaraan akan melaju lebih lambat. Sementara kalau datang hujan, tanah perbukitan ini rawan longsor. Waktu tempuh tentu akan semakin molor dan tidak jelas. Selama perjalanan menuju Lembah Bada kami hanya berpapasan dengan enam mobil lain. Dua berpelat merah milik pemerintah, dua berpelat kuning yang artinya angkutan umum, dan dua mobil pribadi. Sepi-sepi saja.

Tiba di Bada, keharuman lembah menyergap. Kami langsung diantar menuju megailt pertama, yaitu patung Loga. Patung ini berdiri sendiri saja di atas bukit kecil ini, menghadap ke arah barat. Lanskap senja berwarna menawan jatuh tepat di tatapannya. Kami menikmati suasana itu dengan banyak diam, berbicara seperlunya saja. Seolah kata-kata tak lagi punya banyak arti, ditelan kedahsyatan pudarnya senja dan aura magis Loga. Gelap datang. Kami pergi ke sebuah losmen sederhana. Makan malam dan istirahat, masih dengan banyak diam. Saya sedikit gelisah menanti pesona macam apalagi yang akan kami rasa esok hari.

Aman, damai, tenteram, dan sentosa. Entah apakah semua kata itu sebenarnya bisa disatukan dalam sebuah kata yang unik atau tidak. Tapi, begitulah suasana yang saya rasakan di Lembah Bada saat memulai perjalanan berkeliling untuk menilik berbagai peninggalan megalit. Nuansa kehijauan mengelilingi, udara terhirup lega, jalanan lengang saja, tak nampak kerumunan manusia. Tempo hidup bahkan bergerak lebih lambat dibandingkan dengan Tetena. Aman, damai, tenteram, sentosa.

Dari pagi hingga petang kali bergerak memutari Lembah Bada. Hanya istirahat sejenak untuk makan siang di rumah pemandu kami. Berbagai peninggalan megalit kami kunjungi, dari yang ada di tengah padang rumput terbuka hingga yang berdiam di tengah kebun cokelat. Jumlahnya banyak sekali. Mulai dari kalamba seukuran bak mandi hingga patung batu sebesar mobil keluarga ada. Berbagai cerita rakyat tentang megalit-megalit itu mengalir melalui mulut pemandu kami. Kami paling kagum dan terpukau saat bertemu dengan patung Palindo alias sang Penghibur. Patung terbesar yang telah miring dan menjadi ikon Plato Lore ini memang menakjubkan. Besar dan cukup detail. Megah. Begitu melihatnya, kami memang merasa terhibur, sesuai namanya. Rasa salah tingkah yang menyenangkan muncul. Sungguh karya yang menggemaskan. Mungkin kalau patung Palindo sebesar gantungan kunci, akan saya kantongi dan bawa pulang.

Mengenai posisinya yang miring, pemandu kami bercerita. Suatu ketika, seorang raja bersama balatentaranya dari daerah selatan datang menyerbu lembah Bada. Lalu, setelah berhasil menaklukkan Bada, ia ingin membawa sesuatu sebagai bukti penaklukannya. Maka, ia memerintahkan balatentaranya membongkar patung Palindo untuk dibawa pulang. Ratusan prajurit berangkat untuk mengerjakannya. Menjelang pekerjaan selesai, tiba-tiba tanah di sekitar patung longsor dan menimbun puluhan prajurit di bawahnya. Membawa kerugian cukup signifikan bagi sang raja. Maka, raja pun mengurungkan perintahnya dan pulang tanpa membawa tanda mata apapun dari Lembah Bada. Karena ulah sang raja dan balatentara itulah, patung Palindo saat ini menjadi miring posisinya.

Menjelang hilangnya cahaya matahari, kami kembali ke penginapan. Tiada waktu untuk menikmati indahnya senja. Sepanjang hari tadi obrolan kami hanya berisi tentang budaya megalit saja. Beruntung pemandu kami sangat cakap bercerita tentang warisan budaya ini. Puluhan tahun dan ratusan pelancong telah ia kisahkan cerita tentang megalit Plato Lore. Malamnya, kami merencanakan perjalanan esok hari, yaitu menyeberang dari Lembah Bada menuju Lembah Besoa. Kami akan berjalan kaki, melintasi perbukitan yang memisahkan kedua lembah besar ini. Untuk menyiapkan tenaga, ada baiknya saya tidur dulu…

Bersambung ke bagian II

(Dedicated to the great memories of VBS and TSS)

People and places of Indonesia. In living colours random pictures.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *