Gemulai Wayang Orang Sriwedari

Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari, Solo, yang menurut catatan dibangun permanen pada tahun 1928-30, adalah ruang temu masyarakat Surakarta dan sekitarnya. Sedang direncanakan pembagunan gedung baru yang lebih modern mulai 2019 dan gedung lama akan dialihfungsikan sebagai museum.

Nasib setali dengan saudara jauhnya, Wayang Orang Bharata, Jakarta, WO Sriwedari bertahan dari pusaran zaman yang selalu membawa keniscayaan perubahan. Keduanya adalah artefak hidup yang masih mampu bernapas dalam lumpur.

Pak Karno berjaga di depan pintu masuk. Sudah puluhan tahun beliau menjadi bagian dari pengelola Gedung Wayang Orang Sriwedari.

Pak Sukarno, yang sudah puluhan tahun menjadi bagian dari pengelola GWO, dengan fasihnya bercerita tentang perjalanan GWO, orang-orang yang terlibat, hingga para pedagang yang rutin parkir di depan gedung. Tersemat sisa bangga dalam setiap ucapnya.

“Ada pemain yang sudah terlibat sejak kelas 4 SD. Sekarang dia kuliah semester akhir. Menurut pengakuan orang tuanya, si anak bisa terkena demam bila tidak ikut latihan dan pentas”, jelas Pak Karno sembari terkekeh.

Obrolan kami kadang terselak oleh penonton yang datang terlambat. Banyak diantaranya remaja umur belasan yang datang bersama teman atau pacarnya.

“2-3 tahun belakangan, jumlah penonton muda bertambah. Selain itu, kami juga ada program khusus bagi pelajar SD dan SMP, dimana mereka memang diwajibkan untuk menonton. Sering juga orangtua membawa anak-anaknya menonton, sekedar untuk mengenalkan wayang orang”, ungkap Pak Karno.

Sepasang anak muda yang menonton pertunjukan. Jumlahnya meningkat beberapa waktu belakangan.

Ketika bioskop komersil di Jakarta mengenalkan servis antar makanan ke penonton selama pemutaran film, saya haqul yakin idenya dicomot dari GWO Sriwedari dan Bharata. Beberapa kali penjual sate masuk membawa nampan, pesanan penonton.

Penjual sate di depan gedung, sibuk mengantarkan pesanan pengunjung.

Bapak penjual kacang rebus yang enggan disebut namanya, parkir di depan gedung hampir tiap malam. Dia tidak pernah mencatat, pun mengingat, omset penjualan. Baginya, berada di situ adalah ritual yang mesti dijalani.

“Laku tidaknya itu urusan penonton dan rejeki Gusti Allah saja, Mas. Saya cuma menjalani saja, berada di sini kok ya rasanya sudah semestinya”, ujarnya sambil senyum simpul. (DJ-2018)

Owner dan Direktur Operasional Spektakel.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *