Spektakel Ikut Pameran Wisata ITB Berlin, Bawa Seni Budaya. Pantang Ngomongin Harga!

Seperti kantor-kantor lainnya, suatu hari Spektakel.id mengadakan rapat besar awal tahun. “Citra, nanti lu ke Berlin sama Nitya bulan Maret,” kata Pak Direktur Operasional. “Ke ITB Berlin,” lanjutnya.

Oh, oke, di Berlin ada ITB. Manggut-manggut bingung disertai meletupnya adrenalin dan perasaan menyenangkan, karena akan keluar negeri, lihat salju. Hal yang musykil jikalau pakai kocek sendiri.

Selanjutnya, Pak Direktur bersabda mengenai acara tersebut. Pendek kata, ITB Berlin, demikian sebutannya yang paling ringkas, adalah bursa pariwisata terakbar di dunia.

Beberapa hari sebelum berangkat, karena kalut dan stres dengan tugas yang diemban, akhirnya kami diarahkan ulang. “Ingat! Meski ini pameran pariwisata, tapi pintu masuk kita adalah seni budaya, bukan yang lain-lain dan kalian ga perlu sampai bicara harga paket wisata.” Demikianlah wejangan Pak Direktur.

Ya. Jadi, tidak seidealis kesan yang mungkin Anda dapat dari sekadar membaca judul di atas, seolah-olah kami ini organisasi (sok) nirlaba. Spektakel.id dibentuk untuk cari duit. Tentu saja. Kalau tidak, bagaimana kami jajan paket 10 ribuan di warung pecel lele Pak Cipto depan kantor?!

***

Spektakel Plesir! di International Tourismus Börse Berlin

ITB Berlin, demikian sebutannya yang paling ringkas, adalah bursa pariwisata terakbar di dunia. Acara tahunan ini genap melaksanakan edisi ke-52 tahun 2018 ini yang diramaikan oleh lebih dari 100.000 peserta pameran yang 80% di antaranya berasal dari luar Jerman dengan total 182 negara partisipan. Mereka adalah para operator perjalanan, konsultan, serta pemegang kebijakan yang mewakili baik pemerintah daerah maupun negara. Pengunjung tahun ini ditengarai mencapai angka 110.000 orang, di antaranya adalah sekian ribu pelaku bisnis pariwisata (buyers/travel agents). ITB Berlin 2018 digelar dari tanggal 7 – 11 Maret di Berlin, Jerman.

Bukan sekadar pameran pariwisata, ajang jualan atau berjejaring, sebagai inisiatif terbesar dan terpenting di dunia pada bidangnya, ITB Berlin adalah juga rujukan tren pariwisata terkini, serta menjadi ruang pertukaran gagasan antara para pegiat dunia industri pariwisata dunia. Salah satu programnya, ITB Berlin Convention, didedikasikan untuk pembahasan topik-topik pariwisata yang tengah hangat: overtourism, revolusi bentuk-bentuk wisata, digitalisasi wisata, wisata mewah, teknologi, dan pariwisata berkelanjutan.

Pada akhir tahun 2017 kemarin, Spektakel Plesir! menerima undangan untuk mengikuti pameran tersebut. Kesempatan tersebut diberikan oleh International Trade Centre (ITC), sebuah lembaga yang sepenuhnya berfokus pada pendukungan usaha kecil dan menengah di negara-negara berkembang untuk menembus pasar global. Salah satu program ITC adalah She Trades, sebuah upaya untuk meningkatkan partisipasi pengusaha-pengusaha perempuan dalam bursa perdagangan internasional. Spektakel Plesir! terpilih untuk mengikuti ITB Berlin 2018 karena salah satu pendirinya adalah perempuan (Dhiara Fasya) dan usaha yang digelutinya, yaitu operator perjalanan.

Ya, demikianlah pasukan semut Spektakel Plesir! yang baru saja melewati tahun pertamanya, akhirnya dapat hadir di pameran raksasa ITB Berlin 2018. Pameran pertama kami dan terakbar pula!

Grogi, namun kami sambut dengan antusias.

Spektakel Plesir! dan Seni Budaya Nusantara

“I want to know you, I want you to exist.”
– Kutipan film Prancis, Vas vite, reviens tard –

Kira-kira demikianlah semangat yang melandasi lahirnya Spektakel Plesir! Maujudnya menguatkan eksistensi Spektakel.id, direktori daring yang menghimpun dan mengelola data-data kegiatan seni budaya Indonesia.

Sebagai operator perjalanan, Spektakel Plesir! memfokuskan dirinya pada kegiatan-kegiatan seni budaya Nusantara. Dalam setiap paket perjalanannya, Spektakel Plesir! mengajak para peserta trip untuk tidak sekadar mengunjungi tempat-tempat eksotis yang indah, namun juga mengenal masyarakat yang menghidupinya dengan mengalami keseharian mereka, mengikuti ritme hidup mereka atau bahkan terlibat dalam sebuah kegiatan budaya. Misalnya, festival budaya atau ritual adat.

Pada setiap tempat yang dijejak tersimpan kearifan lokal yang tercermin pada laku budaya masyarakatnya, baik nilai-nilai, gaya hidup, paradigma, maupun ritual-ritualnya. Indonesia yang raya ini menaungi lebih dari 17.000 pulau yang dihidupi oleh lebih dari 1.300 suku, pengguna lebih dari 700 bahasa. Sebuah kekayaan yang langka dimiliki oleh negara-negara lain, namun belum cukup kita gali secara optimal. Inilah ikhtiar yang Spektakel Plesir! sedang lakukan: mempromosikan seni budaya Indonesia kepada masyarakat Indonesia dan publik internasional dengan menawarkan perjalanan sarat pengalaman dan khasanah kearifan lokal.

Bagi penduduk lokal, kegiatan ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, namun juga menambah nilai dan kebanggaan mereka sebagai pelaku budaya. Sebab, mereka dilibatkan dalam pengonsepan program perjalanan ini. Merekalah yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta kapan. Tidak hanya itu, mereka adalah saka guru yang dituju, yang akan berbagi pemikiran dan keahlian – yang hanya mereka empunya – dengan tetamunya dan dengan begitu, melanggengkan warisan budaya mereka.

Pada ajang berlabel “The World’s Leading Travel Trade Show” ini, Spektakel Plesir! pun bergandengan tangan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mempromosikan seni budaya Indonesia. Kemendikbud yang menjadi pilot manifestasi UU Pemajuan Kebudayaan tengah mengembangkan sebuah platform pendukung festival seni budaya di Indonesia yang bernama Indonesiana.

Pada tahun pertamanya, Indonesiana akan melakukan pendukungan untuk 15 festival seni budaya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas, pusat kebudayaan/kedutaan asing serta swasta dalam berbagai bentuk kolaborasi. Saat ini, dalam pembentukan dan pengembangan, serta pelaksanaannya platformnya kelak, Spektakel terlibat dalam divisi humas dan publikasi.

Sesuai arahan Pak Direktur Operasional, PR besar kami saat menghadiri ITB Berlin 2018 adalah berjejaring dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin untuk mempromosikan seni budaya Indonesia, memberikan informasi yang memadai mengenai kegiatan-kegiatan seni budaya di Indonesia dan bukan menjual paket. Itu sebab, tidak usah ngomong harga.

Pertanyaannya, apakah mungkin hal itu dilakukan di tengah-tengah pameran pariwisata yang super sibuk? Di tengah-tengah pesta diskon dan penjual-penjual hiperaktif yang berbalapan menyapa siapa saja yang lewat di depan gerai mereka?

Bicara Seni Budaya di Pameran Pariwisata

Pameran berjalan selama lima hari. Tiga hari pertama pameran ITB Berlin khusus dibuka untuk pebisnis (buyers/travel agent). Dua hari selanjutnya pameran terbuka untuk publik umum, biasanya keluarga, segerombolan geng traveler atau mahasiswa pariwisata.

Dari bertemu muka, sekadar obrol-obrol atau janji temu dengan beberapa buyers, kami melihat cerita-cerita yang kami bawa unik buat mereka. Pembicaraan kami tidak berhenti pada tempat-tempat wisata yang dapat mereka kunjungi. Bahkan melebihi kegiatan-kegiatan yang dapat mereka lakukan bersama kami, obrolan asyik semi menghanyutkan ini menyenggol pula cerita-cerita tentang manusia, pandangan hidup mereka, kebiasaan, faktor geografis, ritual-ritual adat serta makna di baliknya.

Informasi mengenai seni budaya menjadi daya tarik tersendiri, karena langka peserta pameran yang berbicara mengenai hal tersebut. Di tengah maraknya promosi wisata yang hanya berhenti pada keindahan tempat-tempat wisata, kami berhasil menyampaikan berita tentang kekayaan seni budaya Indonesia. Harapan kami, mereka mendapatkan gambaran lebih mengenai apa yang mungkin mereka lakukan atau yang dapat mereka tawarkan kepada klien-klien mereka saat berkunjung ke Indonesia, termasuk kesempatan untuk terlibat dalam penyelenggaraan sebuah festival atau ritual adat.

Perjalanan Wisata yang Berkelanjutan

Salah satu label yang laku dijual pada saat mengikuti ITB Berlin adalah responsible tourism atau pariwisata yang bertanggung jawab. Nama-nama padanannya juga marak: ecotourism, sustainable tourism, green tourism…

Karena membicarakannya di sebuah bursa perdagangan yang salah satu indikator kesuksesannya adalah angka-angka, termasuk seberapa besar transaksi yang terjadi, pertanyaan yang terbesit di benak saya adalah: “How responsible is responsible tourism?” Kemudian, apakah Spektakel Plesir! termasuk operator perjalanan yang bertanggung jawab? Rasa-rasanya iya. Cek sendirilah.

Andai semenjak awal pengarahan oleh Pak Bos dan Manajer Plesir kami tidak melulu dicekoki “seni budaya”, “seni budaya”, dan “seni budaya”, namun dikasih entry point selingan “sustainable tourism”, tentu kegiatan “jualan” kami di ITB Berlin akan terlihat lebih seksi seperti orang-orang. Duh!

*Perjalanan Spektakel Plesir! ke ITB Berlin 2018 didukung oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *