Mentawai: Guru Kehidupan di Ujung Barat Nusantara

Aku membayangkan akan bertemu orang-orang pinggiran yang nihil kemajuan – tidak berpendidikan, kolot, dan sangat tradisional – ketika menyusuri sungai Siraraget menuju pemukiman suku Mentawai, awal Agustus lalu. Aku berangkat dari Jakarta bersama Rengga dan Andrew. Kami semua fotografer lepas.

Pemandu kami, Yen, bilang bahwa suku Mentawai masih menjalankan ritus leluhur. Kepercayaan mereka adalah Arat Bulungan. Arat dalam bahasa Mentawai artinya adat, dan bulungan (berasal dari kata bulu) artinya daun.

Sungai Siraraget adalah satu-satunya jalur yang harus dilalui untuk menuju Desa Ugai, desa terluar suku Mentawai di pulau Siberut, Sumatera Barat. Perahu yang kami tumpangi melawan arus. Lebar sungai sekitar sepuluh meter. Pohon bakau di kanan kiri. Air sungai berwarna kecoklatan. Kami sempat berpapasan dengan perempuan suku mentawai. Ia menggunakan perahu kayu yang sangat sederhana: dari batang kayu yang dilubangi bagian tengahnya. Ia sedang mencari ikan dengan jaring tradisional. Ia telanjang dada, menggunakan kalung manik-manik. Namun, ia menggunakan celana pendek. Ia menyalami kami kemudian lanjut mencari ikan.

Sudah dua jam kami menyusuri sungai. Langit mulai gelap, sedangkan Desa Ugai masih tiga jam perjalanan lagi. Yulius, pengemudi perahu, memasang lampu kepala. Setelah itu, ia selalu mendongak ke atas. “Lihat jalan,” katanya, “Coba tengok ke atas, ada semacam jalur sungai, kan?” Aku tercekat. Ia intim sekali dengan alam. Mengenal sifat yang sangat pribadi dari alam.

Perahu kami menepi pukul 20:51 di Ugai. Yen berteriak dengan bahasa yang asing bagiku. Mungkin bahasa Mentawai. Sejumput kemudian, terlihat cahaya-cahaya mendekat ke arah kami dari dalam hutan. Terdengar suara anak-anak tertawa kecil. Mereka mengambil tas-tas kami. “Biar anak-anak ini yang bawa barang-barang kita. Kalo ada tamu, biasanya gitu,” kataYen. “Siapkan uang saja buat mereka.”

Kami berjalan menuju uma Aman Tonem. Uma ialah rumah adat suku Mentawai, tempat kami akan bermalam selama di Ugai. Kami melawati jalan setapak berlumpur di tengah hutan. Tidak ada cahaya.

“Aloita!” suara itu muncul tiba-tiba, kencang sekali. Aloita adalah salam selamat datang orang Mentawai. Seorang lelaki tua dengan ikat kepala manik-manik dan bertelanjang dada menghampiri kami. Samar-samar, dada lelaki itu terlihat bertato garis-garis. Ia julurkan tangan. “Aman Tonem,” katanya memperkenalkan diri.

Yen bilang Aman adalah sebutan buat anak pertama orang Mentawai, sedangkan Tonem adalah namanya. Aman Tonem adalah seorang sikerei, semacam dukun atau tabib di sana. Ia biasa mengobati masyarakat secara tradisional.

Kami berkumpul di Uma Aman Tonem. Penerangan rumah bermodal satu lampu dari tenaga diesel. Entah sejak kapan mereka menggunakan tekhnologi itu. Di uma Aman Tonem sudah berkumpul beberapa orang Mentawai.

“Yohanes.” “Riky,” “Petrus,” “Antonius,” “Semangat,” “Roy,” mereka memperkenalkan diri. Aku penasaran dengan nama-nama itu, aku rasa itu bukan nama dari bahasa mereka.

Beberapa perempuan membawa makanan untuk kami dari dalam rumah. Kami makan bersama. Nasi hangat, ikan laut dan sambal langsung kami santap. Sederhana. Nikmat.

Rumah Aman Tonem adalah rumah panggung. Atapnya daun sagu kering. Lantai tidak langsung menyentuh tanah. Kira-kita tinggi dasar rumah satu meter dari tanah. Kami tidur di dasar rumah beralaskan tikar pandan dan dilindungi kelambu. Nyamuk di sana ganas. Tahun 90-an, banyak orang Mentawai terjangkit malaria. Kelambu hadir ke kehidpan orang Mentawai dari program kesehatan pemerintah.

***

Kami berkeliling ke pemukiman Mentawai di Ugai. Kata aloita sering terlontar lantaran kami sering disapa oleh penduduk yang berpapasan dengan kami. Aku melihat bagunan panggung dari kayu. Atapnya seng. Bangunannya lumayan besar. Ada lambang salib di atas pintu utama. “Orang Mentawai banyak yang beragama katolik,” kata Yen. “Ada pula yang Islam. Masjidnya di Butui, dusun sebelah.”

Aku paham, nama-nama orang yang menyambut kami pasti dapat pengaruh seiring agama masuk ke Mentawai.

Pagi itu, kami mengikuti Aman Tonem dan Aman Poli pergi ke hutan. Mereka akan membuat kabit, cawat dari serat kulit kayu–pakaian wajib sikerei. Aman Poli menebas sebuah pohon seukuran kaki orang dewasa. Mereka menguliti dengan tipis batang utama pohon. Kulit kayu itu dipukul berkali-kali. Lama-lama kulit kayu yang kasar dan kaku itu jadi lebih lentur dan halus. Kemudian mereka mencuci kulit kayu itu ke sungai.

“Ini sudah jadi, tinggal dijemur di depan Uma,” kata Aman Tonem.

Hari ke dua di Mentawai, hujan turun siang hari di Desa Butui, sebelah selatan Desa Ugai. Kami berteduh di depan rumah warga. Tiba-tiba menggema adzan dari pengeras suara. Sumbernya dari rumah di seberang kami berteduh. Bangunan itu menyerupai pendopo di Jawa. Pagarnya bilah-bilah bambu dan rotan. Atapnya menyerupai rumah srotong – rumah tradisional masyarakat Jawa Tengah.

Fernando adalah muadzin di masjid itu. Ia menjadi mualaf sejak tahun 2014. Ia salah satu pengurus yayasan muslim di Mentawai. Gaya berpakaiannya laiknya muslim lain di Indonesia: memakai sarung dan kemeja panjang. Fernando tinggal di rumah sosial program pemerintah.

Alam, Bukan Uang

Orang Mentawai memposisikan sagu sebagai makanan pokok. Setiap orang Mentawai punya tugas masing-masing dalam proses pembuatannya. Setelah pohon sagu ditebang oleh para laki-laki, para perempuan menyiapkan daun-daun sagu. Daun itu nantinya digunakan untuk mebungkus sagu ketika dibakar.

Di lain kesempatan, aku sempat mengikuti bagaimana perempuan Mentawai menangkap ikan. Mereka bertelanjang dada. Rumbai-rumbai daun pisang menutupi bagian pinggang hingga lutut. Mereka menyusuri sungai kecil sambil membawa Leggei, sejenis penangkap ikan dari rotan. Ikan yang mereka dapat dimasukkan ke dalam bambu yang diselipkan di pinggang belakang. Waktu itu, mereka hanya dapat sedikit ikan kecil-kecil. Mereka pulang, tidak memaksakan diri.

Untuk berburu binatang yang sulit dijangkau manusia, seperti burung atau binatang yang larinya cepat, orang Mentawai punya cara sendiri untuk memburu mereka. Panah adalah alat yang mereka gunakan untuk itu. Aman Tonem memperlihatkan bagaimana cara ia membuat bius untuk anak panahnya. Aman Tonem menyerut halus kulit kayu Laingik dengan parang. Bentuknya mirip hasil serutan pensil. Serutan kayu itu dihaluskan bersama doro (cabai rawit), baklau (sejenis lengkuas dan ragi) – tumbuhan khas Mentawai yang mengandung racun. Ramuan dimasukkan ke penjepit dari kayu untuk diperas. Hasil perasan berwarna kehijauan, ditampung dalam belahan bambu. Aman tonem mengambil sejumlah anak panah. Hasil perasan dioleskan ke ujung mata anak panah dengan bulu angsa.

Martinus datang ke Uma Aman Tonem. Ia adalah Sipatiti, seniman tato di Mentawai. Martinus datang untuk mentato kaki Andrew. Konon tato Suku Mentawai adalah salah satu yang tertua di dunia. Tato bagi suku Mentawai memiliki makna keseimbangan. Oleh karena itu motifnya selalu simetris antara badan kanan dan kiri. Motif tatonya melambangkan bintang, batu, hewan, dan peralatan berburu.

Pembuatan tato suku Mentawai sangat tradisional. Mereka hanya menggunakan tinta hitam yang berasal dari campuran air tebu dan sisa pembakaran sumbu lampu teplok. Alat tatonya dibikin dari kayu yang diberi jarum. Dulu, mereka menggunakan duri tanaman sebagai jarumnya. Setiap jarum hanya digunakan satu kali mentato. Ujung jarum dicelupkan ke dalam tinta. Jarum diletakkan di atas kulit. Bagian atas jarum dipukul pelan berulang-ulang dengan kayu. Andrew sesekali meringis menahan sakit.

Martinus adalah seorang mualaf. Ia baru dua bulan jadi pemeluk Islam. Ia tetap mau mentato siapa saja yang ingin ditato. Martinus bilang, ia tidak ingin lepas sepenuhnya dari akar tradisi.

Upacara Perpisahan

Ini hari terakhir kami di Mentawai. Aman Tonem menyiapkan babi di depan uma. Selembar daun dijampi-jampi olehnya kemudian diletakkan di tubuh babi. Tiba-tiba seorang sikerei menusuk babi dengan pedang. Setelah tidak bernyawa, jantung babi diambil. Aman Tonem melihat dengan seksama jantung babi itu. Matanya seperti menerawang. “Jantungnya bagus. Pertanda bagus,” katanya. “Nanti, di antara kalian akan ada yang kemari lagi.” Ia tersenyum.

Kemudian Babi dicacah kecil-kecil dan direbus di kuali di atas bara api.

Malam hari, orang-orang berkumpul di uma Aman Tonem. Kami diberi tempat duduk di samping sikerei. Gajeuma – gendang Mentawai – dipukul seperti tidak beraturan. Namun sesunguhnya jika didengar dengan teliti, pukulannya memiliki pola. Hentakkan kaki tiga penari mengisi kekosongan ketukan gajeuma.

Para penari adalah sikerei. Sikerei menggunakan semacam rok pendek dari daun-daun panjang yang menutup sampai di atas lutut. Daun itu dianyam menggunakan akar pohon atau rotan. Tarian mereka disebut turuk. Gerakannya kadang menyerupai burung, ular, atau monyet. Gerak tari turuk menyimpan filosofi tersendiri. Yen bilang gerakan turuk melambangkan cinta kasih. Gerakan burung elang dan monyet melambangkan perdamaian antar suku. Meski berbeda jenis, mereka bisa hidup berdampingan di alam. Turuk biasa dilaksanakan saat hajatan, menyambut tamu, atau sebagai tarian perpisahan.

Pertunjukan selesai. Babi dibagikan dan di makan bersama. Mereka mengerti, yang tidak makan babi, tidak ditawari. Orang Mentawai yang muslim tidak ditawari makan babi.

Kita yang Kolot, Orang Mentawai Tidak

Berkunjung ke Mentawai membuatku jadi bertanya: Seperti apakah masyarakat yang tidak kolot itu? Apakah kita yang berpendidikan dan dekat dengan tekhnologi canggih bisa disebut masyarakat yang berpikiran maju?

Mentawai membuatku malu. Aku “ditampar” oleh laku hidup mereka. Mereka tidak memecat secara adat orang-orang yang tidak lagi memeluk Arat Bulungan. Mereka berdampingan. Mereka menjalani perdamaian sebagai laku. Harta mereka adalah alam, bukan uang. Kita ingin mendapatkan uang banyak. Mereka ingin mengambil apa yang ada di alam secukupnya, kemudian merawatnya.

Orang Mentawai tidak pergi ke mana-mana. Kita mengunjunginya. Semakin hari semakin banyak yang kesana. Tidak bisa ditahan. Orang berpendidikan ingin ke sana. Orang Mentawai tidak ingin ke kota –tempat orang berpendidikan mudah ditemui. Kita, orang terpelajar datang ke Mentawai untuk belajar kehidupan.

Saat ini, pemerintah Provinsi Sumatera Barat sedang membuat proyek jalan Trans Mentawai. Pohon sudah ditumbangkan sejauh mata memandang di dekat rumah Sikerei. “Ini nanti bakal diaspal,” kata Sikerei. Pariwisata merubah wajah “rumah” orang Mentawai.

Aku teringat ketika ikut Aman Tonem berburu. Aku lihat sikerei itu berjalan di atas tanah merah yang akan dijadikan jalan aspal. Orang-orang kota ingin memberi sentuhan “kemajuan” pada suku Mentawai. Padahal, kemajuan bagi mereka adalah berlaku adil terhadap alam. Berpikir maju bagi suku Mentawai ialah menghargai hak memilih kepercayaan. Mereka tidak mengerti hak asasi, mereka menjalaninya sebagai sebuah laku hidup. Sedangkan banyak dari kita sibuk mempermasalahkan warna kulit, cara ibadah, dan hal-hal konyol lain yang tidak perlu, sembari merusak alam perlahan.

Penikmat teh dipagi hari | rindu rumah jika jalan-jalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *