Jalur Kurima, Kehangatan di Dinginnya Sisi Selatan Lembah Baliem

Lembah Baliem adalah mangkuk raksasa, dengan ketinggian rata-rata 1600 meter di atas permukaan laut. Produk jutaan tahun pergerakan lempeng bumi. Nampaknya semua elemen alam sedang dalam mood yang baik saat pembuatan lembah ini. Keindahan lanskap patut diacungi puluhan jempol (2 jempol jelas kurang!), kesuburan tanah tidak terbantahkan, dan iklim yang melingkupinya sangat menyenangkan!

Lembah Baliem di Papua terkenal karena pesona lanskap dan orang-orang yang menghuninya. Suku Dani, Yali, dan Lani telah berdiam di lembah besar ini ribuan tahun lamanya. Baru pada dekade 1920-an lembah ini diketahui keberadaannya. Iya, dekade 1920-an, belum genap 100 tahun yang lalu. Saat misi pemetaan militer Belanda terbang melintasi sebuah lembah besar yang belum ada di peta dan melihat bahwa ada masyarakat yang berdiam disini.

Dalam misi militer lanjutannya, kali ini lewat jalur darat, mereka menemukan bahwa masyarakat ini memiliki budaya bercocok-tanam dan beternak. Ubi dan babi menjadi komoditas utama. Juga diketahui bahwa ada 3 suku besar yang berbagi daerah kekuasaan di lembah ini. Masing-masing suku mempunyai banyak klan dan sub-klan yang menjadi bagian dari satu persekutuan tertentu. Perang antar persekutuan adalah suatu norma yang lazim.

Di sisi selatan lembah besar ini, terdapat jalur perjalanan bagi orang-orang yang meminati berjalan kaki menempuh medan yang bervariasi. Jalur ini terkenal diluar Indonesia, Jalur Kurima namanya. Informasi untuk pergi menjelajahi jalur ini mudah ditemukan secara online, tetapi tentu saja dalam bahasa Inggris. Tidak banyak yang berbagi informasi soal penjelajahan jalur ini dalam bahasa Indonesia. Sedih.

Menyusuri Jalur Kurima

Kami memulai perjalanan dari Kota Wamena dengan menyewa sebuah “minibus busuk”, istilah yang digunakan oleh pemandu kami. Kami tidak berharap terlalu banyak pada moda angkutan di sisi Indonesia sebelah sini. Lagipula yang kami butuhkan hanya kendaraan yang bisa membawa kami ke titik awal perjalanan, tidak perlu terlalu mewah. Tapi ternyata kondisi “minibus busuk” itu tidak terlalu buruk. Terlihat baik untuk membawa kami, remnya berfungsi dan bangkunya masih rapi. Kendaraan itu ternyata kuat membawa kami (12 orang dewasa, 10 pelancong dari Jakarta, 1 orang Pemandu lokal, dan sang supir) dengan semua logistik dan perlengkapan yang dibawa. 10 tas perlengkapan, 10 karung besar logistik, 3 karung peralatan masak, dan 10 boks air mineral!

Setiba di titik akhir perjalanan berkendara, di daerah bernama Sogokmo, kami dijemput oleh orang-orang yang akan bergabung sebagai pembawa barang. Tentu kami tidak mampu membawa semua barang-barang itu sendiri. Dan memang kami putuskan diawal untuk sebisa mungkin memberdayakan orang-orang lokal. Demi membangun persahabatan dengan orang lokal, dan tentunya agar orang lokal tidak hanya menjadi penonton saat kami berkelebat menjelajahi daerah mereka. Suatu hal yang kami anggap sangat fair. Bisa mengambil kenikmatan menjelajahi keindahan alam disana dan membawa kegunaan bagi masyarakat lokal atas kehadiran kami.

Setelah menghabiskan kurang lebih 1,5 jam didalam “minibus busuk” tadi, kami memulai berjalan kaki menuju suatu kampung bernama Kilise. Titik kami memulai perjalanan masih berada didalam Distrik Wesaput, Kabupaten Jayawijaya. Distrik setara dengan Kecamatan jika kita berada di bagian lain Indonesia. Setelah berjalan kaki sejenak menyeberangi sebuah sungai kecil, tetapi berarus deras, kami telah memasuki Distrik Kurima yang menjadi bagian dari Kabupaten Yahukimo. Jadi ini adalah daerah perbatasan. Dari Distrik Kurima, apabila ingin menuju pusat kabupaten Yahukimo di kota Dekai kita harus berjalan kaki selama 6 hingga 7 hari. Iya, selama itu dan sejauh itu pula. Belum ada jalan yang bisa ditembus dengan kendaraan, maka tentunya angkutan antar daerah pun belum tersedia. Kita bisa saja terbang dari Wamena ke Dekai, bila punya cukup uang untuk menyewa satu pesawat kecil.

Kami berjalan beriringan dari Sogokmo menuju Kilise. 10 orang turis lokal, 1 orang pemandu perjalanan, 2 orang koki, dan 20 orang pembawa barang. Perjalanan dilakukan dalam tempo yang sangat santai. Karena bentang alam yang indah, maka kami banyak berhenti untuk menikmati dan mengabadikannya. Tiba di Kilise setelah 3 jam berjalan kaki, kami menemui satu kampung yang permai. “Wa wa wa wa wa wa” diucapkan serempak oleh warga Kilise. Salam selamat datang a la Lembah Baliem. Keramahan dan senyum mereka terasa tulus. Satu penawar lelah setelah berjalan kaki naik dan turun perbukitan. Kami telah dialokasikan beberapa Honai (rumah khas Papua) sebagai tempat bermalam. Akibat lokasi kampung yang berada di ketinggian dari sebuah ngarai, awan terlihat sama tinggi dengan posisi kami. Kesejukan memeluk erat. Luar dan dalam.

Setelah makan malam yang ditutup dengan semangkuk sup hangat, kami segera menuju Honai masing-masing. Merebahkan badan membungkus diri dengan selimut mencoba untuk tidur. Tetapi malam masih pukul 19.00 waktu lokal. Sangat sore bagi kami yang terbiasa dengan irama perkotaan yang menderu hingga tengah malam. Tetapi tentu tidak ada lagi yang bisa kami lakukan di Kilise. Kampung telah sepi, tidak ada lagi manusia berkeliaran. Listrik pun belum tersedia, dan hawa dingin semakin merajalela. Pilihan terbaik adalah tidur.

Akibat tidur terlalu sore —belum pernah saya tidur dimulai dari pukul 19.00 sebelum ini, maka otomatis saya bangun terlalu pagi, ini menurut pendapat pribadi tentunya. Karena begitu pintu Honai saya buka ternyata suasana kampung telah ramai. Anak-anak telah riuh berkejaran, mama-mama simpang-siur membawa sayuran ke berbagai arah dan para pria bersiap membawa komoditas lokal ke pasar. Sibuk. Meski baru pukul 06.00 pagi. Ternyata daerah ini adalah salah satu daerah penyuplai bahan pangan bagi kota Wamena. Normal jika mereka telah bekerja sejak pagi buta.

Kami pun terbawa ritme cepat pagi hari Kilise. Segera setelah selesai membersihkan diri dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami hari itu adalah mencapai Ugem, kampung yang berada lebih tinggi dari Kilise dan terletak dibukit seberang. Jadi kami harus turun jauh hingga mencapai Sungai Baliem dan naik lagi menuju Ugem. Menyeberangi ngarai besar yang terus kami kagumi keelokannya.

Ajang Pertukaran Informasi

Perjalanan tentu tidak semudah saya menulis tulisan ini. Jalan menurun terjal dan curam, kemudian menyeberangi deras sungai Baliem diatas jembatan tambang yang rapuh dan konsisten bergoyang meski hanya tertiup angin kecil, lalu perlahan menaiki jalur dengan tingkat kemiringan 60 hingga 70 derajat. Tetapi kami semua ternyata tidak mengeluh. Keindahan telah penuh membius kami semua. Canda tawa dan senyum manis terus berkembang. Oh, tentu harus dikesampingkan saat kami menyeberangi sungai Baliem melewati jembatan tambang rapuh yang konsisten bergoyang tadi. Saat menyeberangi jembatan satu persatu, hampir semua dari kami tiba-tiba ingat Tuhan. Memohon ampun atas segala dosa.

Medan perjalanan cukup menantang, kami baru tiba di Ugem menjelang matahari terbenam. Sekali lagi kami menemui sebuah kampung yang telah terbiasa menerima tamu. Tetapi menurut sang tuan rumah, pak Simson Siep yang bekerja sebagai seorang guru merangkap Kepala Sekolah SD, kami adalah tamu lokal pertama yang datang setelah sekian lama. Mereka cukup takjub, karena yang terbiasa berkunjung ke daerah ini adalah para pelancong mancanegara. Buku tamu penuh dengan data tersebut.

Keesokan paginya, kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju satu kampung bernama Pilaba (atau disebut juga Pilawa). Letak Ugem yang tinggi membuat perjalanan pagi itu dipenuhi kabut. Berjalan di antara awan. Berjalan bersama para warga yang akan berangkat ke gereja di kampung sebelah. Karena ternyata itu hari minggu, semua pergi ke gereja.

Oh ya, hampir lupa, jalur atau jalan yang digunakan dalam perjalanan ini hanyalah jalan setapak. Disisi paling lebar hanya berukuran 2 meter saja. Sedangkan di banyak bagian hanya selebar 80 cm hingga 1 meter saja. Jadi jika berpapasan atau ingin mendahului orang lain di jalur ini maka salah satu harus mengalah, membiarkan yang lain lewat terlebih dulu. Tidak mungkin untuk tidak mengalah. Jalannya tidak ada. Dan kami bersyukur jalur menuju Pilaba berupa jalan landai yang menurun perlahan. Kami bisa menikmati sepuasnya bentang alam Kurima.

Di sepanjang perjalanan hari itu, kami berjalan sangat lambat, kami banyak dihibur oleh tingkah polah para pembawa barang. Mereka lebih memilih untuk berjalan bersama kami, meski tentunya barang-barang yang mereka bawa lebih berat. Ternyata itu menjadi ajang bagi mereka untuk bertukar informasi dengan kami. Di sepanjang perjalanan, mereka banyak bertanya soal berbagai isu diluar Papua kepada kami. Tetapi mereka juga menjadikan kesempatan itu untuk menunjukan berbagai kearifan lokal yang telah menjadi kebiasaan di Lembah Baliem. Misalnya, jika hari panas karena matahari bersinar terik maka gunakanlah daun sirih untuk mendinginkan bagian-bagian tubuh.

“Petik daun sirih (yang tumbuh liar di Baliem), taruh di bagian tubuh yang terasa panas,” saran salah satu pembawa barang kami yang tidak tega melihat muka kami memerah karena kepanasan, ia bernama Televisi Kogoya. Iya, Televisi, nama aslinya memang itu.

Kamipun melakukan saran tersebut, dan ajaibnya saran tersebut ternyata benar. Dalam sekejap bagian tubuh yang panas karena terekspos di sinar matahari menjadi adem. Jadilah hari itu kami seperti para tentara yang sedang menggunakan kamuflase di medan perang. Daun-daun sirih menutupi bagian tubuh yang terbuka. Bila daunnya jatuh atau telah hilang khasiat pendinginnya, kami petik lagi yang baru di sepanjang jalan. Terus saja begitu. Dedaunan menjadi tema fashion kami hari itu. Dan saran brilian itu akan saya ingat selalu. Daun sirih penghalau panas. Terimakasih, Televisi!

Semakin Memahami Kedahsyatan Lembah Baliem

Di Pilaba, sekali lagi kami menginap di rumah seorang guru. Hanya kali ini berbentuk rumah biasa, bukan lagi Honai. Dan lagi kami temukan buku tamu penuh berisikan nama-nama pelancong mancanegara, dari berbagai negara. Maka kami dengan sigap membubuhkan nama dan alamat untuk membuktikan bahwa pelancong dalam negeri pun pernah berkunjung di Pilaba. Bukan bermaksud negatif tentunya saat saya bersikap seperti ini. Hanya secuil keprihatinan, tetapi mendalam. Tempat seelok ini, yang berisikan manusia-manusia yang ramah luar biasa, hanya dikunjungi oleh pelancong mancanegara. Lalu apabila para pelancong mancanegara tersebut ternyata mengembangkan dan memberdayakan potensi lokal, kita semua akan protes. Cemburu hebat. Tetapi mengunjunginya pun kita tidak, mengenali orang-orangnya tidak, apalagi paham potensinya. Dingin malam mengingatkan untuk segera tidur dan menghentikan gemuruh pikiran itu.

Hari terakhir perjalanan kami kembali kearah Sogokmo. Untuk menemui kembali “minibus busuk” yang akan membawa kami ke Wamena. Jalurnya tidak terlalu panjang, hanya 2 jam jalan kaki menyusuri jalur yang menurun landai. Kali ini di akhir perjalanan kami menyeberangi Sungai Yetni, yang akan bermuara ke Sungai Baliem pula. Jembatan yang kami gunakan untuk menyeberangi Sungai Yetni dalam keadaan sangat baik, meski bukan terbuat dari beton. Jembatan kabel besi yang kokoh ini dicat berwarna kuning menyala. Seluruh kabel dan badan jembatannya! Saat kami bertanya mengapa, salah satu pembawa barang menjelaskan bahwa jembatan ini dibangun oleh pemerintah di era orde baru. Dan langsung dicat kuning saat itu. Oke, kami mengerti. Lantas untuk mudahnya hal itu menjadi nama jembatan hingga sekarang, “Jembatan Kuning”. Jadi saat jembatan itu direnovasi ataupun diperbaiki total, tetap akan dicat kuning. Identitas masa lalu yang mau tak mau jadi melekat erat.

Sesampainya di “minibus busuk” kami berpamitan dengan para pembawa barang, tetapi ternyata mereka ingin ikut ke kota Wamena pula. Pemandu kami menjelaskan bahwa orang-orang itu ingin ke kota untuk berbelanja, karena sekarang mereka sedang punya uang dari menjual jasa. Oh oke, baiklah. Akhirnya kami bersepakat untuk menyewakan satu lagi “minibus busuk” agar bisa pergi bersama ke kota. Kebetulan ada satu yang sedang menunggu penumpang didekat situ. Jadilah kami semua kembali bersama ke kota Wamena. Dan kata berpisah akhirnya kami ucapkan didepan hotel kami. Kami turun dan mereka akan pergi ke pasar. Entah kapan kami bisa bertemu kembali dengan manusia-manusia baik hati dan senang membantu ini.

Akhirnya saya paham kenapa informasi soal menjelajahi sisi selatan Lembah Baliem ini mudah ditemukan dalam bahasa Inggris. Selain bentang alamnya yang dahsyat, para pelancong mancanegara itu pasti terkagum-kagum dengan dengan manusia para penghuninya pula. Kehangatan manusianya itu. Manusia-manusia yang masih hidup dalam dua dunia, tradisional dan modern. Tetapi mereka tetap tidak luntur kebaikan dan ketulusan hatinya. Pekerja keras dan tidak terlalu suka mendramatisir hidup.

Meski lokasi dan situasi hidup sangat keras menghimpit. Tidak ada jalan raya, ataupun jalan setapak yang proper (baca: aman). Listrik belum tersedia. Puskesmas tidak terkelola, jangan bicara soal BPJS Kesehatan dulu. Dan walau sekolah SD tersedia di setiap kampung, hanya ada 2 orang guru di masing-masing sekolahnya, 2 orang itu jumlah maksimal dan sudah termasuk sang kepala sekolah. Tidak terbayang apa jadinya jika salah seorang guru sedang sakit atau ada keperluan keluarga. Sila direnungkan semua kondisi itu…

Mulai saat itu juga saya terobsesi untuk menceritakan berbagai pengalaman saya di Jalur Kurima, lebih gencar lagi kepada sesama penyuka perjalanan dari Indonesia. Agar terkenalnya jalur perjalanan ini juga masif di Indonesia. Dan kita semua bisa mengenal kedahsyatan bentang alam dan keindahan manusia disana. Memahaminya dalam-dalam. Diujungnya saya ingin ramainya kunjungan itu nanti membawa dampak baik bagi masyarakat lokal. Secara sosial ekonomi maupun peradaban. Lalu kita bisa merasakan kehangatan dalam balutan dinginnya sisi selatan Lembah Baliem.

Itu sudah.

People and places of Indonesia. In living colours random pictures.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *