Sayangku, ijinkan aku plesir!

Seperti impian, laut masih menyimpan misterinya. Impian lama yang tenggelam menyeruak bak buih laut karena kabar yang diberikan oleh Kelik Sumarahadi. Dia bersama teman-teman bedebahnya bersindikasi mendirikan plesir!, sebuah wadah berjalan-jalan melihat keindahan Indonesia, tentunya dengan kacamata daerah yang dikunjungi dan ditempati.

Bagi kawan-kawan plesir!, Indonesia tidak hanya indah dari alam dan geografisnya saja. Nusantara indah karena dihuni orang-orang Indonesia yang beraneka ragam. Dan orang-orang yang tersebar di nusantara Indonesia ini punya kelakuan sosial budayanya masing-masing beda. Nah interaksi dan merasakan pengalaman kehidupan sosial daerah yang dituju menjadi hal utama bagi yang mau ngetrip bersama plesir!. Memberi pengalaman berbeda bahwa Indonesia itu beraneka rupa warnanya.

Nb: Dan paragraf rada serius di atas pula yang saya sampaikan pada orang rumah agar diijinkan plesir! ke Kepulauan Togean.

Sayangku. Impian itu adalah mengunjungi suku-suku nusantara. Dengan wajah usia 17 tahun berpengalaman 33 tahun, dalam pengalaman berkeliling Indonesia, saya masih saja merasa sebagai butiran kacang ijo di tengah lautan panci burjo dengan genangan kuah bersantan yang menyebalkan itu. Tidak bakal ketahuan saya yang mana, sebab hijau semua.

Sayangku. Kita hidup di era dimana kata ‘asli’ dan ‘pribumi’ menjadi kekuatan maha dahsyat untuk menghakimi orang lain. Lalu apakah saya berasal dari yang asli. Ini kira-kira alasan saya berimpian menemui suku-suku tertua di nusantara. Dan, Bung Kelik menunjuk saya menjadi tukang angkut plesir! untuk berkunjung ke Suku Bajo yang tersebar di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah. Sontak saya terima tanpa pikir panjang.

Sayangku. Agar kau tenang di rumah, perlu saya kasih tahu. Sebelum perjalanan, plesir! selalu mengadakan briefing sebelum melakukan perjalanan. Isinya mengenai rencana besar perjalanan, barang yang akan dibawa, apa yang boleh dan tidak dilakukan di tempat tujuan, keamanan, pembagian obat-obat P3K dan lain-lainnya. Aman bukan? Sebab ini nusantara bung.

Sayangku. Kutinggalkan Banyumas menuju Jakarta. Dari Jakarta ke Kota Palu. Kau tahu Kota Palu kan? Itu kota dimana kau dapat menunggu buaya berkalung ban di muara jembatan Kota. Dari Palu menuju Ampana dengan pesawat ATR. Di Ampana lah terdapat pelabuhan untuk menyeberang ke Wakai, sebuah kota kecil di Kepulauan Togean. Di sinilah perjalanan udara menjadi perjalanan laut.

Sayangku, sampai di Wakai keseruan perjalanan mulai terjadi. Menurut rencana, dari Wakai kami (oh iya, saya lupa menjelaskan kalau perjalanan ini saya bersama Riduan dan Tangguh) melanjutkan perjalanan dengan kapal kecil. Namun angin timur melanda, kapten kapal kecil yang kami sewa pun menyarankan menggunakan kapal kayu besar menuju Pulau Papan. Pulau dimana Suku Bajo berdiam.

Sayangku, perahu kayu kami berjalan lambat sekali. Singgah dari satu pulau ke pulau lain. Kami sampai di Pulau Papan jam 20.30 Waktu Indonesia Tengah. Kedatangan kami disambut oleh Bapak Isran sang tuan rumah. Sontak istri dan anak nya repot memasak makan malam untuk kami yang kecapaian setelah menempuh perjalanan udara dan laut. Dan semua terbayar dengan segarnya ikan bakar bumbu kacang khas Bajo Pulau Papan. Dua cething nasi habis dengan empat ekor ikan baronang segar.

Kamipun terlelap bersama matinya genset sumber listrik di pulau ini.

Sayangku. Keesokan harinya setelah leyeh-leyeh pagi dengan memandang halaman rumah yang isinya bening air laut semua, kami mulai aktivitas. Berjalan keliling kampung. Di Pulau Papan, nyaris tidak ada tanah, hanya batu karang besar dan sedikit pasir pantai. Rumah-rumah berdiri di atas panggung kayu yang dipancangkan ke dalam laut. Dari satu rumah ke rumah lain dihubungkan dengan jalan yang terbuat dari panggung kayu.

Sayangku, lihatlah. Di sudut pulau terdapat bukit karang tertinggi. Disitu biasanya anak muda mencari sinyal hp. Tidak langsung dapat. Kami pun mengeluarkan hp kami. Berpindah dari satu titik bukit karang ke titik lain. Hasilnya nihil. Di tempat ini kemutakhiran teknologi tidak selalu menjadi solusi kehidupan. Tanpa sinyal internet, tenangnya hidup ini.

Kamipun melanjutkan berkeliling pulau. Kami menyeberangi jembatan papan panjang. Alkisah, anak-anak kesulitan berangkat sekolah jika sedang ada badai dan gelombang besar. Maka orang tua dan perangkat desa berembuk, dibuatkanlah jembatan papan panjang ini. Jembatan yang kami lewati ini baru berumur 3 tahun.

Sayangku. Saudara-saudara kita dari Bajo ini terkesan pendiam dan menyelidik pada awalnya. Matanya menatap tajam kami yang baru datang. Mata-mata yang terbiasa menantang terangnya matahari laut. Hanya mulut anak-anak polos yang berani menyapa, “Dari mana? Mau ke mana?” Namun setelah kami berbincang dan membuka diri menyebutkan nama kami masing masing beserta asalnya, mereka pun mulai terbuka berbincang ramah. Tandanya, ini masih nusantara.

Sayangku, kami habiskan waktu bermain sampan bak suku Bajo. Hasilnya, kami lebih memilih berenang melihat pemandangan dalam laut yang indah luar biasa dan sampan yang akhirnya kami serahkan ke anak-anak kecil untuk di foto-foto. Tingkah polah kami yang aneh bagi warga. Laut ini halaman rumah mereka sehari-hari, sementara kami kegirangan melihat warna warni ikan dan karang. Bayangkan berenang di halaman rumah sendiri dengan pemandangan coral triangle. Ada bintang laut berwarna biru, merah. Karang bentuk kipas, vas bunga, rigik lancip-lancip..

Sayangku, kelakuan kami orang daratan menjadi tontonan mengasyikan bagi anak-anak kecil Bajo. Mungkin dalam benak mereka berisi tanda tanya mana ada orang dewasa senang sekali melihat ikan kecil warna warni. Karena bagi mereka, ikan yang besar lebih berharga untuk dimakan atau dijual. Jam makan siang pula yang menghentikan kelakuan kami. Kembali ikan segar menjadi santapan.

Sayangku, hujan dan angin timur mendadak melanda. Walhasil kegiatan yang kami susun berantakan. Dengan alasan keamanan, keliling ke pulau menggunakan perahu di tunda. Menuju Malenge di pulau seberang dimana pasar paling ramai se Kepulauan Togean juga tertunda.

Sementara itu jadwal mencari pembuat kacamata selam khas Bajo juga tidak berhasil karena pembuat kacamata tidak berada di rumah. Dan ternyata sudah mulai sedikit yang bisa membuat kaca mata renang tradisional.. Jadilah kami duduk-duduk saja di tepian rumah sembari memandangi hujan di laut petang hari.

Sayangku. Di sini damai. Tidak ada sinyal hp dan juga internet yang mencegah diri dari kebisingan informasi. Tidak pula ada kendaraan bermotor. Pengap asap knalpot hilang dari peradaban manusia. Segar. Yang ada hilir mudik sampan berdayung dan sesekali perahu bermotor tempel ditemani suara deru air berombak memecah ketenangan air laut di bawah panggung halaman rumah tempat ku berteduh, tiupan angin laut dan sesekali burung-burung laut terdengar bergantian pulang menuju sarangnya.

Sayangku. Di tengah hujan kami disuguhi makanan bernama Binte, jagung berkuah. Kuahnya berupa kaldu jagung. Dan akan disatukan dengan jagung rebus ketika hendak dimakan saja. Atasnya ditaburi mie bihun goreng. Rasa kuah bisa kita atur sesuai lidah karena penyajian disertai jeruk, sambal, kecap dan garam.

Sayangku. Katanya anak-anak mampu menghibur hati. Hujan angin timur tak henti. Kegiatan warga pun terhenti. Tidak dengan anak-anak. Dua orang anak datang ke rumah yang kami tinggali. Kiman dan Arman namanya. Kiman mengalami nasib naas, Ibunya telah meninggal dan bapaknya di racun orang. Sayangku jangan menangis dulu. Sebab dari Kiman ini pula saya tahu bahwa manik-manik yang kami bawa untuk oleh-oleh dipercaya mampu mengusir setan dan mara bahaya. Lalu ku mulai merangkai manik-manik menjadi gelang yang disambung dengan benang nylon. Benang nylon sebutan mereka untuk benang yang digunakan untuk memancing. Jadilah kami menghabiskan senja dengan membuat gelang dan kalung manik-manik bersama-sama.

Sayangku, hujan tak reda sampai malam. Anak-anak silih berganti datang meminta jajanan anak, roti, bahkan manik-manik. Sampai kantuk menerjang. Di tengah kantuk, tiba-tiba kacamata selam tradisional Bajo berdatangan. Tidak Cuma satu, tapi tujuh buah. Disini, kabar tersebar luas dari mulut ke mulut bahwa kami mencari kacamata selam khas Bajo. Kacamata selam ini dibuat dari kayu kalintavu, kaca, lem filipin (ini karena beli lem nya di Filipina), ban dalam sepeda dan tali nylon. Jaman dahulu sebelum ada ban dalam sepeda, tali menggunakan kulit kayu, dan getah kayu Jawa, katanya sih cirinya seperti pohon perindang. Kejutan yang menyenangkan untuk mengantar tidur malam ini.

Sayangku, tidur di atas rumah papan rasanya berbeda. Bisa dengan jelas terdengar orang berjalan di sudut rumah yang lain. Telinga jadi peka, otot jadi sensitif. Dan orang Bajo menyebut kayu-kayu penyusun rumah panggung dengan nama Kayu Pingsan. Maka tak heran tidur kami lelap bak orang pingsan…

***

Sayangku, bangun, sudah pagi di sini. Langit biru berserabut awan putih tipis. Air laut nampak bening sekali. Makan sarapan kami bungkus, setelah itu pamitan. Mata nanar Pak Isran dan istri mengiringi kami menaiki perahu pagi ini. Ombak laut masih pasang di halaman rumah.

Sayangku, kami bergegas menuju Dagat Molino. Dagat berarti air sedang molino berarti tenang. Ini adalah danau dimana air tenang berisi ubur-ubur yang tidak menyengat, ubur-ubur baik hati. Turis-turis asing menyebutnya stingless jellyfish lake atau Moriana lake. Tapi warga sini lebih memilih memberi nama Dagat Molino, “sebab orang kita yang punya,” ujar Randy, pemandu lokal yang menemani kami.

Sayangku, karena terlalu pagi, jadi ubur-ubur baik hati ini masih kedinginan, jadi belum nampak dipermukaan. Saya hanya bertemu sekitar ratusan saja. Ya sedikit, karena konon jika menjelang tengah hari dimana air sudah hangat bisa sampai ribuan macam pemukiman padat penduduk di Jakarta. Makanya kita dilarang berenang dengan menggunakan fin, masuk air dengan melompat dan melakukan gerakan yang mengagetkan. Ubur-ubur baik hati ini sensitif sekali, disentuh saja pusing apa lagi terkena hentakan kaki atau fin, sudah pasti mati.

Sayangku, puas di Dagat Molino. Kami berburu pantai. Tak berapa jauh, terdapat pantai Karina. Pantai yang yahud. Konturnya lembut, dari bibir pantai pasir melandai sampai menjorok ratusan meter. Dasarnya pasir putih nan bersih sembari diselingi karang-karang laut yang indah berisi ikan lucu nan warna-warni. Dua jam kami menghabiskan waktu di pantai Karina.

Sayangku, tujuan berikutnya Pantai Barakuda. Konon dikedalaman airnya banya terdapat ikan barakuda. Tapi karena kami kesini bukan untuk berburu barakuda, jadi kami melipir ke pantainya saja. Ingat sekuel Harry Potter dimana dia sedang kompetisi menyelamatkan temannya di dasar laut? Dasar laut yang dihuni duyung-duyung ganas dihiasi daun tanaman laut menjurai lenggak-lenggok? Nah, di Pantai Barakuda dipenuhi dengan tanaman ini, rumput laut liar, nambo namanya. Tapi tidak perlu sampai dalam, ketika kaki masuk ke air sampai sekitar lima puluh meter dari bibir pantai dipenuhi tanaman ini. Tak lupa diselingi karang kecil dengan ikan-ikan biru kuning menyala. Jadilah kami kembali berenang memasuki dunia magis bawah laut Hutan Nambo Pantai Barakuda.

Sayangku, kau jangan khawatir akan makanku. Dipantai ini pula kami bertemu dengan warga-warga lokal nelayan dari pulau lain. Jadilah kami menyaksikan warga lokal menombak ikan yang hasilnya untuk makan siang bersama di tengah pulau. Lani, pemuda setengah Bajo sebab bapaknya menikahi orang daratan, yang mengantar kami dari hari pertama sigap membuat perapian. Jadilah ikan bakar segar, benar-benar segar langsung dari laut, ditombak, bersihkan dan bakar. Cukup ditambah garam, cabai dan jeruk nipis. Bayangkan, sebuah pulau tanpa sinyal, di tepian pantainya ada asap membumbung tinggi dan kami berkerumun disekitar api karena menyantap bakaran ikan beramai-ramai. Ntap soul!

Sayangku, tak terasa ombak meninggi. Matahari berjumlah lima karena saking panasnya mulai tenggelam. Gelombang mulai pasang. Kami harus pergi sebelum gelombang semakin tinggi. Perahu merambat meninggalkan Kepulauan Togean. Ya, ini hari terakhir kami bersentuhan langsung dengan orang-orang Bajo. Kembali menuju Wakai untuk menyeberang ke Ampana lalu terbang ke Palu dan terbang kembali ke Jakarta.

***

Kalau kalian masih saja kepo, ‘sayangku’ itu siapa?

Begini, sayangku itu untuk kalian yang masih mau melihat langsung Nusantara tidak hanya berdasarkan keindahan alam geografisnya saja. Sayangku itu kalian yang tidak ingin memisahkan alam dan manusia yang hidup diatasnya dan sekitarnya. Manusia dan alam saling berhubungan dan memiliki ikatan unik di satu daerah dengan daerah lain. Maka dari itu, plesir-lah dengan paket komplit berisi keindahan alam dan keluhuran peradaban manusianya. Menemukan Nusantara.

See & capture. Lokah Samastah Sukhino Bhavantu

One Reply to “Sayangku, ijinkan aku plesir!”

  1. been there.. togian/togean. perjalanan dari jkt transit ke makasar terbang ke gorontalo seharian di kapal menuju ke wakai dan hidup tanpa sinyal di pulau togian dan papan. menemui anak2 pulau papan yang suka sekali menyanyi dan bermain di atas bukit karang (ada videonya!!) pulang kembali ke jkt lewat wakai ke ampana menuju palu dengan perjalanan darat melewati kota poso. indaaaah tak terkira Indonesiaku.. dan benar, kita hanya sebiji kacang ijo dari lautan kacang ijo yang berkuah santan!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *