Malam Sakral di Rende

Urusan orang meninggal bukan sekadar menguburkan jenazah untuk segera bertemu sang esa. Di Rende, Sumba, orang mati diperlakukan seperti bayi.

Berbeda dengan tradisi di berbagai daerah di Indonesia, Rende memiliki cara yang unik soal persemayaman. Menariknya, proses sebelum pemakaman ini diikuti oleh berbagai tradisi salah satunya peletakan jenazah di rumah adat.

Kematian seorang bergaris bangsawan di kampung Rende, Sumba mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Upacara dilakukan semalam-dua malam bahkan hingga berbulan-bulan. Tumpukan kain tenun ikat khas Sumba membungkus jenazah sang keturunan raja. Kain-kain istimewa bernilai jutaan rupiah dililitkan sampai melapuk dan roboh.

Suara tambur dan gong rampag dimainkan oleh sekumpulan pemuda untuk memanggil para warga bertandang ke rumah besar. Terus menerus hingga waktu pemakaman tiba.

Masyarakat kampung adat Rende ini mempercayai bahwa keturunan raja yang wafat harus diperlakukan selayaknya bayi yang dilahirkan ke dunia.

Perlakuan istimewa bagi mereka yang meninggal tidak berhenti sampai disini. Sebelum akhirnya dimakamkan, jenazah yang disemayamkan di rumah adat akan dijaga siang dan malam oleh para perempuan dan wanita. Pun, mereka akan tidur serumah, seruangan bahkan bersebelahan dengan jenazah yang disemayamkan. Kain-kain tenun khas Sumba beraneka warna dan motif yang sangat cantik membungkus jenazah. Khusus untuk mereka yang memiliki garis lurus keturunan raja, jenazah bisa diletakkan dalam peti mati dengan hiasan kain-kain pada bagian bawah dan atas peti mati.

Kekerabatan dan kebersamaan masyarakat dari kampung kampung kecil bermarga bebas bisa datang kapan saja untuk melayat. Mereka juga bisa bergantian berjaga di bagian depan rumah adat. Sambil bergantian memukul tambur dan gong atau sekadar bermain kartu semalam suntuk.

Ritme musik yang dimainkan oleh para orangtua yang membuat kesakralan semakin terasa di Rende. Terdengar teratur, pelan dan magis menghanyutkan mereka yang mendengarkan secara seksama.

Malam sakral di kampung Rende ini tidak bisa disaksikan setiap saat atau ketika orang bergaris keturunan biasa meninggal. Hanya mereka yang bertrah istimewa yang mendapatkan perlakuan beda disaat meninggal dunia. Bagi wisatawan yang beruntung untuk dapat singgah, menginap dan menyaksikan malam sakral ini juga tak sembarangan untuk dapat mengambil gambar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *