Perjalanan Awal Menjadi Operator Perjalanan

Sebelum memulai bisnis ini, saya hanya ikut-ikutan dengan beberapa teman untuk mendaki gunung, menelusuri pantai, mengunjungi taman-taman nasional, hingga mendatangi masyarakat adat berbagai di penjuru nusantara. Pada saat itu pula, Google dan berbagai teknologi tidak sepesat sekarang sehingga informasi sulit untuk didapatkan. Untuk berkelana, kami harus mencari informasi kepada beberapa penjelajah alam senior seperti Don Hasman, Herman Lantang, Aistides Katoppo, dan Riza Marlon. Kami pun juga membandingkan informasi yang kami dapatkan dengan National Geographic, majalah yang kami kagumi.

Setelah berjalan ke banyak tempat, ada beberapa teman saya yang mengontak saya dan mengatakan mereka tertarik pergi ke tempat yang sudah saya kunjungi dan meminta diantarkan. Dengan senang hati saya lakukan karena bisa kembali ke sana tanpa biaya. Setelah mengundurkan diri dari perusahaan di mana saya bernaung, saya membantu teman-teman yang menjadikan kesempatan ini sebagai ladang bisnis yang menggiurkan.

Seiring berjalannya waktu, saya putuskan untuk membuka dan mengelola bisnis operator perjalanan secara mandiri, bernama Plesir di plesir.spektakel.id. Adanya perbedaan pendekatan dan pandangan, terutama secara bisnis, yang membuat saya lebih tertarik menjalaninya sendiri.

Pertama kali saya membawa tamu untuk mengunjung Suku Baduy di Lebak, Banten. Masyarakat adatnya sangat menjunjung tinggi nilai tradisi lokal. Banyak hal yang membuat kaget para tamu perjalanan, seperti tidak boleh mandi menggunakan cairan pembersih apa pun dan hanya membersihkan diri dengan air sungai. Para peserta perjalanan sempat mengeluhkan betapa jauhnya perjalanan yang harus dilakukan dengan berjalan kaki melalui medan yang berbukit-bukit. Namun, pada akhir perjalanan saya bersyukur karena mereka merasa bahwa semuanya itu terbayar dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Menurut peserta, selain memperkaya pengetahuan, mereka semakin hormat kepada Suku Baduy yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adatnya di tengah gempuran globalisasi.

Misi utama saya tetap sama: memperkenalkan Indonesia dengan lebih baik dan dengan cara yang lebih bersahabat. Bukan hanya kepada warga negara asing, tetapi juga kepada warga Indonesia agar mereka lebih memahami dan menikmati segala yang ada tersedia di kepulauan raksasa ini. Untuk itulah, perjalanan yang saya sediakan adalah mengunjungi masyarakat adat, singgah di daerah pesisir, atau sekadar pergi ke gunung dan pantai.
Selama perjalanan mendaki gunung atau ke pesisir, saya sibuk menjawab pertanyaan peserta tentang kenapa lama sekali waktu yang diperlukan untuk mencapainya. Begitu pula ketika mengunjungi masyarakat-masyarakat adat, saya harus menghadapi pertanyaan seputar mitos yang beredar di masyarakat umum, seperti jika mengunjungi masyarakat adat Baduy ataupun Papua adalah hal sangat berbahaya. Saya harus memberikan pengertian yang begitu dalam kepada mereka.

Jika di Baduy, isu yang beredar bahwa mereka mempraktikkan ilmu hitam yang dapat mengancam kesehatan jiwa, maka isu yang beredar saat mengunjungi masyarakat adat Papua adalah soal keselamatan raga dan dianggap memusuhi dan memerangi orang dari luar Papua. Namun semua akan berbalik ketika para pejalan telah mengunjungi daerah-daerah tersebut. Masyarakat adat-baik di Baduy, Papua, ataupun daerah lain di Indonesia-adalah masyarakat yang cinta damai dan sangat menghormati para tamu yang mengunjungi mereka.

Bagi saya, satu kenikmatan yang gemilang adalah saat melihat bagaimana kepuasan dari para peserta perjalanan terucap melalui mulut ataupun terlihat dari bahasa tubuh mereka. Ketika mereka melihat langsung keindahan gunung atau pantai di nusantara ini maupun saat mereka berinteraksi dengan masyarakat adat yang baik hati, berwibawa, dan bijaksana.

Kesenangan lain profesi ini adalah kesempatan menjelajah pelosok negeri yang menarik, terutama untuk melakukan survey trip. Tahun lalu, bersama beberapa tour operator lainnya, kami ke kawasan Banggai, Sulawesi Tengah. Kami tahu, daerah ini terletak di Sulawesi Tengah bagian ujung timur. Yang tidak kami ketahui adalah bahwa Banggai terdiri atas tiga kabupaten yang mencakup daerah yang sangat luas. Ada Kabupaten Banggai dengan ibukota Luwuk, Kabupaten Banggai Kepulauan dengan ibukota Salakan, dan Banggai Laut yang beribukota Banggai. Cukup membuat bingung dengan berbagai nama Banggai-nya. Kebingungan selanjutnya adalah menentukan Banggai mana yang kami ingin kunjungi pertama kali, terutama karena baru kami ketahui kalau tempat-tempat tersebut terletak sangat berjauhan. Akhirnya dengan pertimbangan waktu yang kami miliki, kami hanya mendatangi beberapa spot primadona yang sedang viral di dunia maya, seperti pulau Mbuang-mbuang di Banggai Laut, Luk Panenteng di Banggai Kepulauan, dan Bukit Teletubies di Banggai. Nantinya, kami bisa menyesuaikan paket perjalanan yang akan kami tawarkan. Cukup memuaskan.

Hanya menyediakan paket perjalanan di Indonesia saja merupakan satu pilihan yang tidak mainstream. Ditambah lagi saya hanya melakoni pilihan paket perjalanan dengan minat khusus, tempat-tempat yang tidak atau belum terkenal, dan agak sulit dijangkau seperti Nias, Baduy, Lore Lindu, Sabu/Savu, dan Papua. Ide utamanya adalah saya membiarkan peserta bertemu dan mengakrabkan keelokan masyarakat yang mendiami daerah tersebut. Kesulitan utama dalam membuat perjalanan bertipe ini adalah menyampaikan kemauan ini kepada masyarakat lokal dan meminimalkan hambatan fisik. Ini pula yang membuat saya harus bisa memahami dan punya pengetahuan yang baik soal karakter dan budaya dari masing-masing daerah tadi.

Pada akhirnya, saya lahir dan berumah di Indonesia, kepulauan raksasa yang cantik dan segar di poros khatulistiwa ini. Saya berharap bisa mengajak kita semua mengenal bumi yang telah kita jadikan rumah. Selayaknya mengenal rumah sendiri, kita tak hanya mengenal kamar utama, tapi mengenal perabot dan rincian lainnya. Indonesia tidak hanya kita kenal dari tempat indah saja, tapi budaya, sejarah, manusia, dan area pelosok yang juga merupakan bagian negara ini. Luar dan dalam, jiwa dan raga.

Salam Indonesia!

Artikel orisinil tampil diĀ wewerehere.id

People and places of Indonesia. In living colours random pictures.

One Reply to “Perjalanan Awal Menjadi Operator Perjalanan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *